z Adi Ngurah

www.adingurah.co.cc

Selamat Datang Di Blog Adi Ngurah , Semoga Dapat Bermanpaat Bagi Kita Semua

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

Semoga Apa Yang Telah Kita Lakukan Mendapatkan hasil Yang Memuaskan Sesua Dengan Ajaran Agama Yang Kita Anut , Semoga Kedamaian Selalu Menyertai Kita semua Di Dunia Ini

PELABUHAN BULELENG

Dulu Buleleng Sempat Terkenal Dengan Pelabuhan Kapalnya Yang Sekarang Sudah Tinggal Kenangan.

ADI NGURAH

Terlahir Penuh Dengan Keterbatasan Tak Membuatku Untuk Pantang Menyerah Dengan Keadaan, Kini Ku Bangkit dan Akan Ku Tunjukkan Kalau AKU BISA !

BULELENG IN A SECOND

Keindahan Buleleng Dengan Berbagai Tempat Wisata Yang Tak Kalah Dengan Daerah Lain Di Indonesia.

SELAMAT HARI RAYA NYEPI TAHUN CAKA 1934

Jadikan Hari Raya Nyepi Tahun Ini Sebagai Pencerminan Hidup Kita Yang Di Masa Lalu , Mari Kita Berbenah diri dari Sekarang.

MUDA KREATIFITAS

Tetaplah Berkarya Dan Jadikan Hidupmu Bermanfaat Bagi Semua Orang

Senin, 01 Agustus 2011

Profil desa Bulian

DESA BULIAN

A.      SEJARAH SINGKAT DESA BULIAN

Dalam penelusuran sejarah Desa Bulian, disamping didasarkan pada bukti-bukti tertulis yanbg outentik, juga berdasarkan pada sumber yang merupakan kajian dari sosiocultural dari masyarakat serta peristiwa-peristiwa sejarah yang dikemas dalam bentuk mitos yang bersifat mistis relligius.
Adapun mitos tentang Desa Bulian yang berkembang adalah terkait dengan kedatangan seseorang tokoh yang bernama Tabanendra Warmadewa, putra dari Cri Kecari Warmadewa. Setelah beliau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai seorang raja, beliau memutuskan untuk melakukan pengembaraan sambil mengamalkan ilmunya ke Bali utara. Di Daerah-daerah yang dilalui dan dianggap penting dilakukan pembukaan hutan dan membangun Desa Banyubuah dan indrapura(Depeha). Terkait dengan daerahnya yang terpencil sehingga nyaman bila dijadikan sebagai tempat melakukan pembinaan diri/bertapa. Berselang beberapa lama beliaumelanjutkan perjalanan lagi ke beberapa Daerah di Bali Utara bagian Barat dengan menyusuri pantai dan kemudian kembali lagi ke Banyubuah. Kedatangan Beliau pada saat ini sehubungan dengan terjadinya pemberontakan yang dilakukan orang-orangCina. Oleh karena usia beliau sudah tua maka beliau terus menetap di Banyubuah dan akhirnya wafat, lalu abunya disemayamkan di Pura Bukit Sinunggal Desa Tajun
Kemudian  seorang Raja keturunan Wrmadewa berikutnya Abhiseka Raya Hyang Ning Yang Adi Dewa Lencana yang oleh Dr Gorris dalam buku berjudul Sejarah Bali Kuna dijelaskan beliau merupakan jungjungan satungkeb Bali Dwipa yakni Raja Bali yang XIX menurut tatanan Raja-raja Bali kuna, beliau juga mengundurkan diri ke Banyubuah. Pada saat itu ditepi barat Desa Banyubuah berbatasan dengan Desa Bengkala oleh Beliau didirikan sebuah anak desa yang dinamakan Bulian yang merupakan benteng pertahanan yang kemudian menjadi pusat desa Bulian dengan Banyubuah sebagai salah satu wilayah Banjar Dinas yang ada di dalamnya.
Tempat Pertapaan di Banyubuah – Bulian terletak di sebuah jurang sungai berhutan lebat yang disebut Pura Gde atau Pura Hyang Pingit. Daerah hutan dengan luas lebih dari 1 hektar ini merupakan kawasan suci yang begitu disakralkan dan selayaknya menjadi Kahyangan bagi seluruh Umat Hindu di Pulau Bali. Jadi jelaslah bahwa Banyubuah Bulian telah berdiri sekitar tahun 965 caka oleh Tabanendra Warmadewa yang fungsinya sebagai benteng pertahanan dan tempat untuk mengundurkan diri atau melakukan tapa brata.
Nama Bulian berasal dari kata “ Bulihan “ yang dapat berasal dari akar kata “ Bulih “ berarti bibit padi, yang mendapat akhiran kata an. Makna kata ini didukung oleh tatana parahyangan desa yang ada yakni : adanya 2 ( dua ) pura sungsungan subak yaitu : Pura Yeh Basang dan Pura Lodguwuh, serta adanya pelinggih yang sangat penting di Pura Banua yaitu Pelinggih Ratu Ayu Mas Kereb Sari, pengayom sari satungkeb jagat Buleleng. Dari pengertian kata Bulian = bibit padi, mengisyaratkan bahwa wilayah Bulihan dahulu merupakan daerah bagian kerajaan yang sangat subur dan terkenal dengan hasil buminya sehingga disebut pula dengan sebutan “ Gunung Sari “. Hal ini diperkuat oleh beberapa lontar yakni : Lontar Tingkahing Mungkah Parhyangan, Sangkul Pinged an Lontar Kusumadewa. Berikut ini beberapa petikan bunyi Lontar diatas :

1.      Lontar Kusumadewa Kirtya 1804
“ Pemayuhe wawengkon Buleleng, ika malih kebayuh Gedong Sari, Tumpang ro, Pelinggih Ida Bhatara Ratu Ayu Mas Kereb Sari, saking Gunung Sari, ngaran Bulian.
2.      Lontar Sangkul Pinge 129 B
Lontar yang memuat tentang kepemangkuan di Pura Besakih juga menyebutkan tentang Pelinggih Ida Bhatara Kereb Sari, Gunung Sari, atau Bulian, perwujudan dari Ida Bhatara berupa Kereb Sari yang Berarti cadar atau tutup untuk mengayomi sari sebagai zat kehidupan.
3.      Lontar Tingkahing Mungkah Parhayangan Kirtya 1106
Lontar ini memuat wejangan Mpu Kuturan mengenai meru dan tingkatan bangunan meru, pada lampiran 186; Malih makewenang maphyasan/panggungan malihlasan, pamayune wewengkon Buleleng, ika malih kebayuh Gedong Sari Tumpang ro Pelinggih ida Ratu Ayu Mas Kereb, saking Gunung Sari ngaran Bulian
Versi kedua makna kata Bulian yang disandingkan dengan kata Abulihan atau kata mebulihan. Pemaknaan ini didasari oleh sebuah fakta sejarah bahwa Bulihan dahulu merupakan sebuah anak desa yang berada diantara Desa Bengkala di sebelah Baratnya dan wilayah Banyubuah disisinya timurnya. Tempat ini dipergunakan sebagai basis/benteng pertahanan untuk menghadang musuh-musuh yang ada disisi barat. Lebih tegas lagi wilayah dan karma Banyubuah disebut Raja Sri Haji Jaya Pangus dan wilayah serta karma Bulian.

B.     LAMBANG DAN ARTI

Pengertian Lambang / Simbul Desa Bulian:
1.      Meru, Padma, Om Kara dengan sinar tujuh tingkat berwarna putih kuning keemasan diatas kembang Teratai, : menghormati keagungan dan kemuliaan Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Shang Hyang Widhi Wasa, dan para leleuhur dengan kemasyuran dan mujizat yang member sinar suci untuk mencapai tujuan kejayaan “Bulian”.
2.      Lingkar Padma Asta Dala: Penyangga wilayah dari penjuru mata angin yang juga merupakan wilayah tanah suci (kawasan spiritual) tempat pertapaan/payogan dan kekuasaan Paduka Bhatara Sri Hyang Ning Hyang Adhi Dewa Lencana
3.      Padi dan Kapas: bSenantiasa mendapat anugerah kecukupan sandang dan pangan (mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran)
4.      Bulian: Nama Desa Bulian
5.      Pita Bertuliskan “SATYENG BHAKTI PERTIWI”: Selalu Setia berbakti, berfkarta dan mengabdi untuk ibu pertiwi/ Desa Bulian, yang dilandasi oleh palsafah hidup agama Hindu yaitu Tri Hita Karana.

II. VISI dan MISI
A.    Visi:  “MENGOPTIMALKAN SUMBER DAYA YANG ADA, DENGAN DIDUKUNG OLEH PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MEMBANGUN DESA MENUJU PEMERINTAHAN YANG ADIL, TRANSPARAN DAN DEMOKRATIS”
B.     Misi:
1.      Mengupayakan peningkatan taraf hidup masyarakat melalui usdaha pemberdayaan potensi alam Desa, penguatan kualitas Sumber Daya Manusia dan penyediaan Sarana Prasarana yang memadai
2.      Mewujudkan pemerataan pembangunan diseluruh wilayah Desa yang berwawasan lingkungan
3.      Mewujudkan kemandirian Desa yang Demokratis, Transparan, Partisipatif dan akuntabel
III. LUAS WILAYAH
Desa Bulian memliki potensi lahan yang cukup potensial dan startegis dengan luas wilayah ± 8.045 Ha.
Pemanfaatan wilayah:
        1.      Perkebunan        : 375 ha
        2.      Pertanian            : 315 ha
        3.      Kuburan             : 1 ha
        4.      Perumahan         : 28 ha
        5.      Tegalan               : 81, 045 ha
IV. LETAK DAN BATAS-BATAS DESA
Desa Bulian berada pada ketinggian ± 100 – 300 m dari permukaan laut, dengan batas-batas wilayah sbb:
        Sebelah Utara           : Desa Kubutambahan
        Sebelah Timur           : Desa Depeha
        Sebelah Selatan        : Desa Tamblang
        Sebelah Barat           : Desa Bila dan Bengkala

V. JARAK PEMERINTAHAN DESA
        a. Kecamatan           : ±8 Km. dengan jarak tempuh ± 15 menit
        b. Kabupaten            : ± 18 Km dengan jarak tempuh ± 45 menit
        c. Propinsi                : ± 108 km dengan jarak tempuh ± 2 jam 45 menit
VI. STRUKTUR KEPENGURUSAN
(TERLAMPIR)
 
VII. JUMLAH DUSUN
Desa Bulian terbagi menjadi 5 (lima) Dusun yaitu:
        1.      Dusun Dauh Margi
        2.      Dusun Dangin Margi
        3.      Dusun Banyu Buah
        4.      Dusun Lodguwuh
        5.      Dusun Bantes

VIII. JUMLAH PENDUDUK
        a.       Laki-laki           : 2.078 jiwa
        b.      Perempuan       : 2.029 jiwa
                  Jumlah            : 4.107 jiwa

IX. MATA PENCAHARIAN
No
P E K E R J A A N
L A K I-L A K I
P E R E M P U A N
J U M L A H
1
Petani
1303
631
1934
2
Buruh Tani
235
187
422
3
PNS
24
12
36
4
Pengrajin Industri Kecil
12
14
26
5
Pedagang Keliling
6
9
15
6
Peternak
6
-
6
7
Montir
7
-
7
8
Polri
9
-
9
9
TNI
2
-
2
10
Dokter
1
2
1
11
Pensiunan
PNS/TNI/POLRI
10
1
12
12
Bidan/Tenaga medis lain
3
-
4
13
Dukun Kampung Terlatih
1
92
1
14
Karyawan Swasta
107

199
15
Bidang Pariwisata
a.       Usaha Wisata (Travel)
b.      Pemandu wisata
c.       (Pramuwisata/Guide)

6
5


6
5

JUMLAH
1.726
948
2674

X. ORGANISASI DESA
Organisasi Desa yang ada di Desa Bulian adalah sbb:
        1.      Subak Abian Yeh Basang
        2.      Subak Abian Bantes
        3.      Subak Abian Amerta Sari
        4.      Subak Sawah Babakan
        5.      Sekaa Teruna-teruni DHARMA SEWAKA Desa Pakraman Bulian.

XI. POTENSI DESA
Potensi Desa yang dikembangkan di Desa Bulian yaitu:
        1.      Bidang Pertanian        : Padi, Ketela, jagung, mangga, rambutan, kacang tanah, kelapa, pisang
        2.      Bidang Peternakan      : Sapi, babi, kambing, ayam
        3.      Bidang Pariwisata       : Pura Ratu Hyang Pingit sebagai Wisata Religius
        4.      Kerajinan Tangan        : Ingka, Bingkai, Foto/Pigura dengan bahan baku kertas dan plastic daur ulang, serta daun waru
XII. SARANA PENDIDIKAN
No
URAIAN
JUMLAH MURID
KETERANGAN
1
Taman Kanak-kanak (TK)
a.       Jumlah Murid
b.      Jumlah Pengajar
1
25
5

2
Sekolah Dasar
a.       Jumlah Murid
b.      Jumlah Pengajar
3
447
28


XIII. SARANA KESEHATAN
     a.       Posyandu:
        1.      Posyandu Dauh Margi
        2.      Posyandu Dangin Margi
        3.      Posyandu Lodguwuh
        4.      Posyandu Banjar Bila
        5.      Posyandu Banyu Buah
        6.      Posyandu Munduk Kelor
    b.      Puskesmas Pembantu 1 Buah

XIV. SARANA DAN PRASARANA MEDIA INFORMASI
Seiring berkembangnya kemajuan IPTEK, Desa Bulian mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama dibidang Media dan Informasi. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah Penduduk Desa Bulian yang memanfaatkan sarana komunikasi yaitu:
        1.      Jumlah Sarana computer pada Kantor Desa 3 Unit, dengan spesifikasi sbb: HDD.160 GB. Intel Pentium 4, RAM 512 MB, Monitor TV 15’
        2.      Jumlah Penduduk yang mempunyai TV                : 648 Orang
        3.      Jumlah Penduduk yang mempunyai Radio           : 576 Orang
        4.      Jumlah Penduduk yang Berlangganan Koran        : 4 Orang
        5.      Jumlah Penduduk yang mempunyai Telepon/HP  : 990 Orang
        6.      Jumlah Penduduk yang mempunyai Komputer     : 27 Orang

SELAYANG PANDANG DESA WANAGIRI


DESA WANAGIRI
  1. SEJARAH DESA WANAGIRI
Konon menurut cerita-cerita orang tua, bahwa Desa Wanagiri adalah Desa yang termasuk masih muda karena baru terbentuk pada tahun 1973 yang merupakan penggabungan dari tiga dusun/banjar yang sebelumnya merupakan desa lain yaitu : Banjar Dinas Asah Panji termasuk wilayah desa Panji, Banjar Alas Ambengan termasuk wilayah Desa Ambengan yang sekarang namanya Banjar Dinas Bhuanasari sesuai SKp Bupati Nomor. 10 tahun 1989 dan Banjar Yeh Ketupat termasuk wilayah Desa Gitgit
Sebelum gunung agung meletus tahun 1963 perkebunan rakyat Desa Wanagiri merupakan kawasan hutan belantara dan pada waktu itu di Banjar Dinas Asah Panji hanya ada kurang lebih sepuluh orang penghuni. Kesepuluhan orang tersebut menemukan wilayah ini sebagai perkebunan kopi, sehingga untuk memudahkan urusan administrasi mereka membuka jalan setapak ke Desa Panji dengan kesemangatannya merintis jalan maka terwujudlah jalan setapak dengan panjang jurang lebih 5 km yang sampai sekarang jalan tersebut bahkan telah di aspal sepanjang 1,3Km, dengan lebar 6 M yaitu jalan puncak manik.
Banjar Alas Ambengan juga sebelumnya merupakan kawasan hutan yang banyak padang alang-alangnya sehingga alas ambengan berarti “ Hutan Alang-alang”, setelah beberapa penduduk merabas hutan dan mulai mengembangkan tanaman kopi serta membuat tempat tinggal ( pondok ) dan membuat jalan setapak yang menghubungkan desa Gitgit.
Banjar Dinas Yeh Ketipat, nama Banjar ini diambil dari adanya Pelinggih di salah satu mata air dimana mata air tersebut hingga sekarang di beri nama Pura Tirta Ketipat. Berawal dari perjalanan Ki Barak Panji dari puri Klungkung ke desa Panji yang diiringi oleh para pengikutnya dan pada suatu saat beliau melewati batu mejan dan beristirahat di sini sambil menikmati bekal ketupat, manum setelah selesai makan seluruh pengikutnya minta air minum, karena letak air sangat jauh dibawah maka Ki Barak Panji mengambil keris Pajenengan lalu di tancapkan ke tanah, pada tempat itu akhirnya  keluarlah air suci yang sampai sekarang di sebut Tirta Ketipat. Pada mulanya di palemahan Yeh Ketipat ada 3 orang penghuni antara lain : 1. Pan Reken. 2. Pan Kandi . 3. I Gusti Nyoman Sempidi yang ketiganya telah almarhum. Lama kelamaan akhirnya terbentuknya satu dusun yang termasuk wilayah Desa Gitgit.
Dengan adanya pertambahan penduduk di masing-masing wilayah banjar Dinas dan sangat sulitnya berhubungan dengan Desa-desa induk maka masing-masing banjar sepakat untuk membentuk Desa Administrasi.  Akhirnya ketiga banjar tersebut mengadakan pertemuan dimana dalam musyawarah tersebut di capai kesepakatan untuk membentuk Desa baru. Masing-masing banjar mengeluarkan calon nama-nama Desa antara lain :
Desa warnasari : dengan pertimbangan bahwa yang mendiami desa ini adalah campuran (pendatang) dari berbagai daerah .
Desa Catur Sari :  dengan pertimbangan bahwa yang mendiami desa ini adalah berbagai kasta.
Desa Wanagiri   : dengan pertimbangan karena desa ini lokasinya di daerah pegunungan kawasan hutan belantara dengan pengertian : wana artinya Hutan atau Alas ( Bahasa Bali), dan Giri artinya Gunung (bukit).
Ketiga nama calon desa tersebut di ajukan ke kabupaten melalui kecamatan dan akhirnya di setujui salah satu dari ketiga nama calon desa yang diajukan yaitu desa Wanagiri dan sebagai perbekel/kepala desa yang pertamam adalah : I GEDE MAS ARTA.
Adapun nama-nama yang pernah menjabat sebagai perbekel/kepala desa Wanagiri adalah:
  1. I Gede Mas Arta tahun 1973-19769 ( perbekel)
  2. I Gusti Ngurah Agung Arnawa tahun 1976-1984 (kepala desa)
  3. I Gusti Made Raine tahun 1984-2002 (kepala desa)
  4. I Wayan Gumiarsa. SE tahun 2002-2007 ( kepala desa )
  5. Ir. Made Raksa tahun 2007-2013 (perbekel)
I. Nama desa         :   Desa Wanagiri
II. Visi  dan Misi Desa
Visi :
         -    Secara umum tetap melaksanakan pembangunan di Desa baik fisik maupun no fisik                      secara maksimal.
         -    Mengupayakan untuk peningakatan mutu masyarakat melalui peningkatan pendididkan,               kesehatan  pendapataN dan sosial masyarakat guna mencapai masyarakat yang adil                     dan sejahtera.
        -    Peningkatan mutu lembaga-lembaga yang ada di desa untuk mencapai kerja sama yang                 baik dalam kebersamaan membangun Desa.
         -   Menggali dan memperdayakan potensi Desa guna menunjang segala pembangunan di                   Desa.
Misi :
          -     Melaksanakan amanat masyrakat yang dituangkan dalam perturan perundang-                             undangan  yang  berlaku oleh  perangkat Desa, aparat Desa, lembaga, dan masyarakat                  Desa.
          -     Melaksanakan segala peraturan baik dari pusat maupun daerah yang di tuangkan                         dalam perda dan perdes yang dilaksanakan oleh pemerintahan Desa.
          -     Meningkatkan kemampuan aparat Desa melalui pelatihan-pelatihan dan bimbingan dari                  instansi dinas terkait.
         -   Mengupayakan peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap kebijakan                  pemerintahan melalui penyuluhan-penyuluhan  yang di adakan di desa.

III.  Luas wilayah Desa Wanagiri: 1575 Ha
IV. Pemanfaatan wilayah :
Perkebunan                       : 1122 Ha
Tegalan                              : 11,50 Ha
Perumahan                        : 28,25 Ha
Kuburan                              : 0,40 arE
Perkantoran                      : 0,31 are
V. Letak dan batas-batas
Sebelah utara                   : Desa Ambengan, Git-git,Sambangan,dan Panji.
Sebelah Timur                  :Desa Pegayaman
Sebelah selatan               :Desa Pancasari
Sebelah Barat                  :Desa Gobleg Kec. Banjar
VI.  Jarak Pemerintahan Desa ke
  1. Kecamatan                         :20 Km
  2. Kabupaten                          :22Km
  3. Propinsi                               :57 Km
VII. Jumlah Dusun 3 (tiga) An:
  1. Banjar Dinas Yehketipat
  2. Banjar Dinas Bhuanasari
  3. Banjar Dinas Asah Panji
VIII.  Jumlah penduduk 3111 jiwa
  1. Laki                                        : 1620 jiwa
  2. Perempuan                           : 1491 jiwa
IX.   Mata pencarian penduduk : Bertani
X. Organisasi Desa seperti  subak ad 3 (tiga)
  1. Subak Giri Mertha             : di Banjar Dinas Yehketipat
  2. Subak Satya Wacana Giri   : di Banjar Dinas Bhuanasari
  3. Subak Asah Panji              : di Banjar Dinas Asah Panji
XI. Potensi Desa yang di kembangkan  :
  1. Pertanian                               : 1066
  2. Perternakan                          :8516
  3. Pariwisata                             :5
  4. Kerajinan Tangan                 :10
XII. Sarana Pendidikan :
  1. TK ada 1 (TK Kumara Giri)
  2. SD ada 4 (1,2,3,4)
  3. SMP ada 1 ( Taman Pendidikan 45)
13. Sarana Kesehatan :
  1. Posyandu ad 3 (tiga) Yeh ketipat, Bhuanaasri, Asah Panji.
  2. POSKESDES
14. Sarana dan prasarana nedia Informasi :
  1. Jumlah sarana computer pada kantor Desa                       : 2
  2. Jumlah penduduk yang mempunyai TV                               :580
  3. Jumlah penduduk yang mempunyai Radio                         :325
  4. Jumlah penduduk yang berlangganan Koran                     :1
  5. Jumlah penduduk yang mempunyai computer                   : 10
  6. Jumlah penduduk yang mempunyai telepon, hp                 : 810

Danau Buyan dan Tamblingan Bali

 

Danau Buyan dan Tamblingan Bali

Danau Buyan dan Tamblingan(Buyan and Tamblingan Lake)
Kabupaten/Kota : Buleleng


Danau Buyan dan Danau Tamblingan seolah danau kembar yang memiliki daya tarik yang sangat mempesona. Keaslian alam di kedua danau ini masih sangat dirasakan, misalnya dengan tidak adanya penggunaan perahu bermotor di kedua danau ini. Masyarakat setempat menggunakan perahu-perahu kecil yang disebut "pedahu" untuk memancing. Dengan udara yang sejuk dikelilingi pegunungan yang serba hijau, suasana udara yang segar memberikan suasana yang tenang dan nyaman. Danau ini sangat ideal untuk rekreasi air seperti mendayung dan memancing. Bagi mereka yang menyenangi alam dan rekreasi, kedua danau inilah tempatnya. Adanya kera-kera yang tidak jauh dari kedua danau ini, yaitu di jalan raya sebelah danau Buyan jurusan Denpasar-Singaraja, yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, menambah daya tarik kawasan ini sebagai obyek wisata.




Danau Buyan dan Danau Tamblingan berlokasi di Kecamatan Sukasada, 21 km sebelah Selatan Kota Singaraja, terletak di pinggir jalan Denpasar-Singaraja. Letaknya yang cukup tinggi yaitu kurang lebih 1000 m dari permukaan laut menyebabkan udaranya agak sejuk dan dingin pada malam hari. Sedangkan Danau Tamblingan dapat dicapai melalui pertigaan ke arah Desa Munduk, desa Gobleg dan tembus di Lovina. Sepanjang jalan ke danau ini dapat dilihat pemandangannya secara utuh. Dari Desa Munduk dapat dicapai danau melalui jalan swadaya masyarakat. Mobil dapat mencapai pinggir danau yang masih asri, dengan kawasan hutannya yang belum tersentuh. 


Fasilitas yang tersedia adalah tempat parkir untuk mobil tepi danau, penyewaan perahu untuk keperluan memancing ataupun sekedar berekreasi, dan fasilitas akomodasi. Dari pengamatan secara umum, kebanyakan wisatawan yang datang ke tempat ini adalah wisatawan mancanegara yang independent, mereka membawa kendaraan sendiri. Setiap saat danau ini ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan Nusantara.

Lokasi 0byek Danau Buyan dan Tamblingan terletak di kawasan yang sangat strategis yakni diapit oleh tiga obyek wisata terkenal yaitu Bedugul dengan Pura Ulun Danunya, Air Terjun Gitgit, dan Lovina Beach. Sebagai latar belakang adalah gunung Lesong dengan ketinggian 1860 m memagari kejernihan air danau sekaligus menciptakan keheningan yang sangat alami. 

Masyarakat setempat menggunakan perahu-perahu kecil yang disebut pedahu untuk memancing. Dengan udara yang sejuk dikelilingi pegunungan yang serba hijau, suasana udara yang segar memberikan suasana yang tenang dan nyaman.
Danau ini sangat ideal untuk rekreasi air seperti mendayung dan memancing. Bagi mereka yang menyenangi alam dan rekreasi, kedua danau inilah tempatnya.
Adanya kera-kera yang tidak jauh dari kedua danau ini, yaitu di jalan raya sebelah danau Buyan jurusan Denpasar-Singaraja, yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, menambah daya tarik kawasan ini sebagai obyek wisata