z Adi Ngurah

www.adingurah.co.cc

Selamat Datang Di Blog Adi Ngurah , Semoga Dapat Bermanpaat Bagi Kita Semua

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

Semoga Apa Yang Telah Kita Lakukan Mendapatkan hasil Yang Memuaskan Sesua Dengan Ajaran Agama Yang Kita Anut , Semoga Kedamaian Selalu Menyertai Kita semua Di Dunia Ini

PELABUHAN BULELENG

Dulu Buleleng Sempat Terkenal Dengan Pelabuhan Kapalnya Yang Sekarang Sudah Tinggal Kenangan.

ADI NGURAH

Terlahir Penuh Dengan Keterbatasan Tak Membuatku Untuk Pantang Menyerah Dengan Keadaan, Kini Ku Bangkit dan Akan Ku Tunjukkan Kalau AKU BISA !

BULELENG IN A SECOND

Keindahan Buleleng Dengan Berbagai Tempat Wisata Yang Tak Kalah Dengan Daerah Lain Di Indonesia.

SELAMAT HARI RAYA NYEPI TAHUN CAKA 1934

Jadikan Hari Raya Nyepi Tahun Ini Sebagai Pencerminan Hidup Kita Yang Di Masa Lalu , Mari Kita Berbenah diri dari Sekarang.

MUDA KREATIFITAS

Tetaplah Berkarya Dan Jadikan Hidupmu Bermanfaat Bagi Semua Orang

Kamis, 19 Mei 2011

Pura Puseh Penegil Dharma

Pura Penegil Dharma berada di wilayah Desa Kubutambahan Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Pura yang tergolong Kahyangan Jagat Nusantara ini sering pula disebut Pura Puseh Penegil Dharma atau Penyusu Dharma. Berdasarkan penuturan Ulu Krama Pura Penegil Dharma Prof. Putu Armaya, pura ini merupakan pura tertua di Bali dan menjadi cikal-bakal Bali. Sebagai pusat kesucian bhuwana agung. Sejarah pendirian pura ini dimulai pada 915 Masehi.

======================================================== 

Menurut Prof. Armaya, keberadaan Pura Penegil Dharma tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Ugrasena, pendiri Dinasti Warmadewa dan Maha Rsi Markania atau yang disebut masyarakat Bali sebagai Rsi Markandea. Pura Penegil Dharma sudah ada sebelum Majapahit datang ke Bali. Saat itu Bali masih menyatu dengan Pulau Jawa dan berada di ujung timur pulau itu. Dahulu Bali bernama Prawali. "Itu berdasarkan prasasti Mataram I," ucap ahli sejarah yang pernah jadi Ketua DPRD Buleleng pada 1977 ini.
Dalam prasasti itu juga tertulis bahwa Gunung Merapi meletus hebat pada 914 Masehi. Letusannya menghancurkan ibu kota Kerajaan Mataram I yang berpusat di Candi Boko, Jawa Tengah, di mana penduduknya menganut agama Siwa. Raja Mataram I Sri Sanjaya meninggal karena bencana itu. Kemudian masyarakat setempat yang selamat dipimpin Mpu Sindok mencari tempat baru untuk mendirikan kerajaan.
Mereka menyusuri perbukitan selatan Pulau Jawa. Di lereng Gunung Semeru rombongan itu menemukan aliran sungai bernama Berantas. Akhirnya di tepi sungai itu, Mpu Sindok yang begelar Rakai Hino membangun kerajaan yang diberi nama Kahuripan

Sementara Ugrasena, salah seorang anggota keluarga Raja Mataram I tidak ingin turut membangun Kahuripan. Hal tersebut karena dalam meditasinya di Candi Boko, Ugrasena yang seorang spiritualis tinggi itu melihat pralingga Ida Sang Hyang Widhi di ujung timur Pulau Jawa yaitu Prawali bersinar berkilauan. Ugrasena lalu berniat membangun pusat kerajaan baru di Prawali.
 
Di Kahuripan, Ugrasena mendengar bahwa ada parekan Ida Sang Hyang Widhi sedang bertapa di Puncak Gunung Semeru. Namanya Maha Rsi Markania. Nama "Markania" berasal dari kata "parekan". Ugrasena lalu menghubungi Maha Rsi itu dan bersama-sama mencari pralingga di Prawali. Bersama sebagian rakyat Mataram I mereka akhirnya menemukan pralingga tersebut di tepi danau yang kemudian diberi nama Kawista yang artinya buah bila

Kawista ini juga singkatan dari "Kawi Prayascita", bermakna wilayah Kawista sebagai ibu kota yang sudah suci karena titah (takdir) sebelum campur tangan manusia yang mengupacarai kesuciannya. Maha Rsi Markania mengatakan tempat itu Gigir Manuk yang berada di wilayah Desa Kubutambahan hingga Air Lutung (Ponjok Batu).

Kawista dibangun menjadi pusat kerajaan, istana, agama dan petirtaan karena di dalam danau itu ada 118 mata air suci. Ugrasena menjadi Raja Kawista dengan gelar Kesari Warmadewa. Sementara Senapati Kuturan atau Menteri Agama dijabat Rsi Markania yang merangkap sebagai penasihat raja. Kawista inilah nantinya menjadi Pura Penegil Dharma.
 
Batas wilayah Kawista di arah utara adalah laut yang ada hutan bakau sepanjang 200 meter. Di dalamnya terdapat laguna yaitu danau air tawar yang tembus ke laut. Timur: Ponjok Batu (Air Lutung). Selatan: Paradayan Air Tabar (sekarang jadi Desa Bayad, Tajun, Tunjung, Depeha). Barat daya: Bila (sekarang jadi Bila Tua, Bila Bajang, Bengkala, Tamblang) dan di arah barat: Air Raya (Tukad Aya).
Di Istana Kawista inilah lahir keturunan Dinasti Warmadewa yaitu putra-putra Kesari Warmadewa. Pertama Janasadhu Warmadewa dengan permaisurinya Sri Wijaya Mahadewi yang menurunkan Udayana. Udayana memiliki permaisuri Mahendradatta, yaitu mindon-nya dari Kerajaan Kahuripan. Keturunan selanjutnya dari Dinasti Warmadewa yaitu Marakata Pangkaja dan Anak Wungsu tidak menghasilkan keturunan (ceput) sehingga tidak ada penerus Kerajaan Kawista yang masih menyatu dengan Pulau Jawa itu. Kawista akhirnya jadi hutan rimba yang ditempati para bromocorah.
 
Sementara pada 1248, di Singosari dinobatkan dua pangeran muda menjadi raja kembar, setelah perebutan kekuasaan di Daha. Kedua pangeran bersepupu itu masing-masing Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Ranggawuni dinobatkan sebagai raja Jawa bergelar Jaya Wisnu Wardana, sedangkan Mahesa Cempaka menjadi Raja Mancanegara Nusa Atepan yang terdiri tujuh gugusan kepulauan selain Jawa. Dia juga disebut Nara Jaya atau Jaya Pangus. Sebagai raja dia bergelar Narasinga Murti. Sementara Nusa Atepan diberi nama Narasinga Negara dengan lambang singa bersayap

Selanjutnya, Wisnu Wardana memperistri adik Narasinga Murti bernama Waninghiun. Mereka memiliki putra Kertanegara. Sejak itulah terjadi keretakan antara keluarga Wisnu Wardana dengan Narasinga Murti. Muncul isu Narasinga Murti tidak dikehendaki berada di Jawa karena dia raja mancanegara. Maka pada 1250, Narasinga Murti melacak jejak istana leluhurnya di Prawali. Tujuannya untuk dijadikan pusat kerajaan Narasinga Negara. Saat itu Prawali sudah terputus dengan Pulau Jawa dan menjadi pulau tersendiri bernama Bali. Kedua pulau itu terpisah laut sempit yang lebarnya kurang dari 100 meter sehingga diberi nama "Segara Rupet". 

Akhirnya Narasinga Murti yang saat itu bernama Suradipa atau Ksatria tanah leluhur menemukan Kawista. Lahirlah istilah Pakraman I Bulian dari kata "muloyo iki pusering jagat prawali". I Bulian juga berarti tanah yang lain. Pada 1260 sesuai permintaan Pakraman Paradayan Bulian, Narasinga Murti menjadi Pasek di tempat tersebut karena sudah lama terjadi kekosongan kekuasaan di Bali. Kawista juga sudah ditempati para bromocorah yang merampok pedagang yang melewati tempat itu. Dengan menyandang nama Jayasakti, dia lalu menumpas para penjahat itu.

Pura Penegil Dharma

Setelah menumpas para penjahat, Kawista dibangun kembali menjadi areal pura. Di Pura Puseh Panegil Dharma dibangun lima pura yaitu Pura Pucaking Giri (selatan), Pura Patih Patengen Agung (utara), Pura Kertapura yang berfungsi sebagai pesamuan para raja dan patih di Narasinga Nagara (tengah), dalam telaga, Pura Taman Sari Mutering Jagat Istana Dharmadyaksa (timur) dan Pura Kerta Negara Mas sebagai istana raja.

Sementara pusat itu dikelilingi delapan pura lainnya masing-masing Pura Negara Gambuh Anglayang, Dalem Puri, Maduwe Karang, Patih, Pandita, Candri Manik, Gede dan Pura Sang Cempaka.
Menurut Prof. Armaya, di Pura Penegil Dharma semua umat harus mohon kesadaran terhadap fungsi panumadian supaya perjuangan hidup berhasil dengan baik. Orang yang bersembahyang ke pura ini harus dalam keadaan bersih lahir batin seperti balita.
 
"Jangan meminta hal-hal aneh seperti kekayaan berlebihan karena tidak akan berhasil. Begitupun niat-niat buruk, tidak akan mempan dilakukan di Pura Penegil Dharma," ucapnya.
Sementara itu, salah seorang pemangku di Pura Penegil Dharma Jro Mangku Gede Nyoman Sara mengatakan pura ini berada di lahan seluas sekitar 1,5 hektar. Piodalan di pura ini berlangsung setiap enam bulan, yaitu saat Buda Manis Julungwangi. Pura ini disungsung seluruh masyarakat Buleleng dan Bali.
 
Pangemongnya dari Desa Pakraman Kubutambahan yang terdiri atas Pasaren, Teruna dan Pemaksan. Jumlahnya lebih dari 500 orang. Para pangemong ini yang menyiapkan segala upacara yang berlangsung di Pura Penegil Dharma.

SELAYANG PANDANG DESA TEJAKULA

NAMA DESA

Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng

1. Sejarah Desa

Untuk pemberian nama Desa di Indonesia, khususnya di Bali memang berbeda-beda,ada berdasarkan tempat daerah, ada berdasarkan tokoh masyarakat yang pertama menetap dan atau berdasarkan nama benda-benda yang ada disekitarnya.
Mengenai pemberian nama Desa Tejakula, yang tertulis ditemukan dalam prasasti dan Undang-Undang Desa ( Sima Desa ). Dan untuk menjamin kebenarannya kami mengadakan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat yang tahu mengenai asal-usul nama desa Tejakula,disamping itu pula kami mengambil perbandingan dari cerita-cerita rakyat atau Foklore.
Menurut piagam Raja Janacadhu Warmadewa yang memerintah tahun 975 tarik masehi yang sekarang tersimpan di Desa Sembiran. Dalam piagam itu ditemukan nama “ Hiliran “ hal ini dapat dilihat dalam prasasti tersebut pada lembaran Va, yang berbunyi sebagai berikut :

KUNANG YA ADA DURBALA SANGHYANG PERHYANGAN MEPEDEM, PANCURAN, PASIBWAN, PRASADA, JALAN RAYA DENGAN LODAN PAHURU PANGNA BANWA DI  JULAH , DI INDRAPURA, BUWUNDALEM, HILIRAN, KEBAYANA, AMIN SIWIDHARUAN, SANGHYANG PERHYANGAN DITU “
Yang artinya :

Apabila ada kerusakan –kerusakan Pura, Kuburan, Pancuran, Permandian , Prasada ( Candi ), Jalan raya yang ada disebelah utara maupun disebelah selatan, harus Desa Julah, Indrapura, Buwundalem, dan Hiliran, berganti-ganti memperbaikinya juga mengeluarkan biaya, karena penduduk desa-desa ini semuanya memuja Pura atau Kahyangan itu ( Goris, dalam Ginasa 1974 : XVIII )”.
Berdasarkan uarian tersebut diatas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ Hiliran “ adalah : Desa Tejakula sekarang, karena nama tersebut tercantum  disebelah timur nama Buwondalem ( Bondalem ) atau berdasarkan urutan penyebutan nama-nama Desa yang tercantum yang sangat tua, dimana desa tersebut sudah ada sejak abad ke 10. Psasasti – Prasasti di Bali yang berangka tahun abad ke 8 sampai ke 10 kebanyakan menggunakan bahasa bali kuno, asal katanya adalah hilir dan mendapat akhiran an menjadi hiliran, hilir dalam bahasa Indonesia juga berarti bagian sebelah bawah, lawan katanya hulu yang artinya bagian sebelah atas. Dalam Prasasti Raja Jaya Pangus yang berangka tahun 1181 tarik masehi, tidak ditemukan lagi nama hiliran, tetapi nama lain yakni Paminggir. Untuk lebih jelasnya lihat Prasasti tersebut lembaran VIII b sampai Xa, sebagai tersebut dibawah ini

ATE – ATE KARAMA NIBANU BUAH, TAN PAWEHA MANGANA IRIKANG WWANG MANASA, SALWIRANI KAWWANGANYA KAWATEKANNYA, MAKADI WADWA HAJI RING PAMINGGIR “,
Kira – kira artinya :
Selanjutnya penduduk Desa Banyubuah dilarang memberikan / menghidangkan makanan kepada orang-orang dari Desa Manasa, biar orang itu berkasta apa saja dan golongan apa saja, terutama kepada rakyat dari Desa Pinggiran ( Ginarsa  1974 : XV ).
Dalam prasasti tersebut diatas memang kurang jelas nama yang dimaksud dengan Desa Pinggiran. Karena tidak disebutkan urutan Desa – desa lainnya, Untuk memperkuat data bahwa Desa Tejakula dahulu juga dapat bernama pinggiran dapat kita lihat dalam Prasasti Kintamani D, yang dikeluarkan pada jaman Pemerintahan Raja Ekajaya Lencana, berangka tahun 1200 tarik masehi, yang bunyinya sebagai berikut :

“RING WINTANG RANU ADAGANG MARE LES, PAMINGGIR, BUHUNDALEM, JULAH PURWASIDHI, INDRAPURA, BULIHAN, MANASA YAKA SIDHA TAN PAMISINGGIH I SARASANING, RAJA PRASASTI ANUGRAHANIRA PADUKA SRI MAHA RAJA  I KARAMANING CINTAMANI “,
Kira-kira artinya :
Apabila ada orang-orang dari Desa Lintang Danu ( Desa yang ada di pinggir Danau batur , berjualan ke Desa  Les, Paminggir, Buhundalem, Julah Purwasidhi, Indrapura, Bulihan dan Manasa, hal ini telah diputuskan tidak dipergunakan Undang-undang yang tersebut dalam Prasasti Anugrah dari Sri Paduka Maharaja, yang ditujukan kepada sekalian penduduk Desa Kintamani ( Goris, dalam Ginarsa 1974 XV ).
Berdasarkan uruta nama-nama Desa yang disebut diatas nyatalah bahwa Desa yang dimaksud Desa Paminggir adalah “ Desa Tejakula “ menurut Prasasti tersebut yang pertama disebut adalah Desa Les, jadi desa ini letaknya disebelah timur Desa Tejakula, setelah itu baru disebut Desa Paminggir, Buhundalem, Julah dan seterusnya, sampai sekarang memang nama-nama Desa yang disebutkan seperti Buhundalem, Julah dan Les termasuk Kecamatan Tejakula, terbukti bahwa dulunya Desa Tejakula bernama Paminggir.

Kata Paminggir berasal dari kata Pinggir yang berarti : tepi, batas atau pinggir. Menurut pikiran kami kata paminggir hamper sama pengertiannya dengan kata hiliran, sehingga nama-nama ini silih berganti dipakai, baik dalam Prasasti maupun dalam Undang-undang Desa.
Kata hiliran kembali ditemukan dalam undang-undang Desa Tejakula yang selesai ditulis pada tahun 1932, tetapi nama hiliran dalam Undang-undang Desa tersebut disingkat menjadi liran saja.( Lihat sima Desa Tejakula ). Perkembangan selanjutnya beberapa tokoh masyarakat menterjemahkan kata paminggir ke dalam bahasa sansekerta yaitu : Kula     ( bersuku kata panjang ) Kula juga berarti pinggir atau tepi. Dimuka kata kula ditambahkan kata Teja yang berarti sinar atau cahaya. Tercantumnya kata Teja dimuka kata kula, penulis berusaha menemukan dari nama asal-usulnya. Untuk mengetahui asal-usul kata Teja, kami mengadakan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan ditambah dengan cerita-cerita rakyat atau Foklore.
Menurut cerita rakyat bahwa dalam jaman dahulu ada sinar jatuh disebelah timur desa itu, maka sampai sekarang diabadikan menjadi nama desa, kemungkinan besar sinar yang kelihatan jatuh ditepi timur desa itu semacam metior atau bintang-bintang yang berpindah tempat.
Jadi berdasarkan urutan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa nama Desa Tejakula dahulu pernah berubah tiga kali sampai sekarang akan tetapi pengertiannya tidak begitu jauh satu nama dengan nama lainnya.yakni dari kata Hiliran diganti menjadi Paminggir dan terakhir menjadi Tejakula sampai sekarang.

Demikian sejarah Desa Tejakula ini dibut berdasarkan temuan dalam Prasasti dan Undang-Undang serta cerita-cerita yakyat dan juga temuan dari tokoh masyarakat yang tahu tentang asal-usul Desa Tejakula, sebagai bukti sejarah serta pemberian nama Desa Tejakula, untuk dapat dipergunakan dimana mestinya.

Dikutif dari Buku Profil Pembangunan Desa
Dan sesuai dengan aslinya.
2. Lambang/Logo dan Artinya

 
Segi Lima : Berdasarkan Pancasila
Candi Bentar : Lambang kebudayaan
Sayap berwarna kuning : Mempunyai cita-cita berkembang
Gunung : Desa Tejakula pernah bernama Liran yaitu nama sebuah gunung
Tangga : Pembangunan dilaksanakan secara bertahap
Padi Kapas : Lambang kemakmuran
Ikatan Pada Padi Kapas : Kemakmuran harus berdasar pada Trikaya Parisuda
Sayap, Candi, Tangga, semua mempunyai bilangan tiga : Desa Tejakula masih berpola Tri Hita Karana

VISI DAN MISI
Visi : -
Menuju masyrakat sehat, cerdas dan sejahtera

Misi
1.         Mewujudkan  Desa  Tejakula  yang  sehat,  melalui  Pembangunan Sanitasi Lingkungan  dan  sarana  pelayanan  kesehatan berkaitan  dengan kebijakan Pemerintah Indonesia  di bidang kesehatan   yaitu  MENUJU  INDONESIA  SEHAT  2010 yaitu  meningkatkan kesadaran , kemauan  dan kemampuan  hidup  sehat  bagi setiap orang  agar  terwujud  derajat  kesehatan  yang optimal.

2.         Mewujudkan  Desa  Tejakula  yang  Cerdas,  melalui  Pembangunan  sarana prasarana  Penunjang  Pendidikan  agar  tercipta  generasi  muda  yang  mampu  bersaing dalam  Peningkatan  Mutu Pendidikan dan  Keterampilan sehingga mampu   menciptakan lapangan kerja dan memiliki  budi  pekerti.

3.       Mewujudkan  Desa  Tejakula  yang Sejahtera , melalui  pembangunan infrastuktur  dan  perbaikan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi  lingkungan hidup ,  revitalisasi pertanian  dan pemberdayaan  kelompok – kelompok  usaha  produktif .
LUAS WILAYAH DESA
Luas Wilayah desa Tejakula :    1396 Ha.
Pemanfaatan Wilayah
  1. Sawah dan Ladang  ; 106,05 Ha
  2. Bangunan Umum : 9,69 Ha
  3. Pemukiman / perumahan ; 97,90 Ha
  4. Kuburan ; 3 Ha
  5. Jalan : 21,02 Ha
  6. Pertokoan / Perdagangan : 4,65 Ha
  7. Pasar ; 0,30 Ha
  8. Pekarangan : : 11,00 Ha
  9. Tegalan : 382,45 Ha
10.  Perkebunan : 40,0 Ha

BATAS-BATAS DESA
Letak Desa
Desa Tejakula adalah salah satu desa yang berada di Wilayah Kecamatan Tejakula, termasuk ibukota kecamatan yang terletak pada ketinggian 0 – 300 meter dari permukaan laut, dengan suhu udara rata-rata 280 C – 320 dan termasuk dataran rendah
Batas-batas desa
  1. Sebelah Utara : Laut Bali
  2. Sebelah Selatan : Kec. Kintamani Kab. Bangli
  3. Sebelah Barat : Desa Bondalem
  4. Sebelah Timur : Tukad Les desa Les
Jarak Pemerintahan Desa ke- :
  1. Ke Ibu Kota Kecamatan Tejakula      :     0 Km
  2. Ke Ibu Kota Kabupaten Buleleng      :   33 Km
  3. Ke Ibu Kota Propinsi Bali                  :  114 Km
JUMLAH DUSUN DAN NAMA-NAMA DUSUN
Desa Tejakula terdiri dari 10 dusun :
  1. Banjar Dinas Suci
  2. Banjar Dinas Kawanan
  3. Banjar Dinas Tengah
  4. Banjar Dinas Siladarma
  5. Banjar Dinas Kajanan
  6. Banjar Dinas Antapura
  7. Banjar Dinas Tegalsumaga
  8. Banjar Dinas Kanginan
  9. Banjar Dinas Kelodan
10.  Banjar Dinas Sukadarma
JUMLAH PENDUDUK
Jumlah penduduk desa Tejakula :
  1. Laki-laki : 6.023 Jiwa
  2. Perempuan : 6.098 Jiwa +
Jumlah : 12.121 Jiwa
Kepala Keluarga (KK) : 3.437 KK

MATA PENCAHARIAN PENDUDUK
Mata pencaharian penduduk desa Tejakula secara umum adalah Pertanian / Perkebuna, Buruh Tani , Peternakan dan Nelayan

ORGANISASI SUBAK DAN TRUNA TRUNI
  1. Lembaga Subak
    1. Subak Sri Dharma Tirta  Banjar Dinas Siladarma
    2. Subak Siungan Banjar Dinas Antapura
    3. Subak Amerta Boga Banjar Dinas Suci
    4. Subak Kebon Banjar Dinas Antapura
    5. Subak Tirta Anugrah Banjar dinas Suci
  2. Sekeha Truna Truni
  1. STT. Teja Mekar
  2. Karang Taruna Kumara Sentana Graha
SARANA PENDIDIKAN
  1. 1) TK Negeri Pembina
  2. 2) SD N 1 Tejakula
  3. 3) SD N 2 Tejakula
  4. 4) SD N 3 Tejakula
  5. 5) SD N 4 Tejakula
  6. 6) SD N 5 Tejakula
  7. 7) SD N 6 Tejakula
  8. 8) SD N 7 Tejakula
  9. 9) SD N 8 Tejakula
10) SMP N 1 Tejakula
11) SMP Udayana Tejakula
12) SMA N 1 Tejakula
13) SMA Udayana Tejakula
SARANA KESEHATAN
Puskesmas : Puskesmas I Tejakula
Posyandu
  1. Posyandu Nusa Indah Banjar Dinas Suci
  2. Posyandu Jambu Banjar Dinas Suci
  3. Posyandu Jempiring Banjar Dinas Kawanan
  4. Posyandu Angsoka Banjar Dinas Tengah
  5. Posyandu Anggrek Banjar Dinas Siladarma
  6. Posyandu Kamboja Banjar Dinas Kajanan
  7. Posyanduu Mawar I Banjar Dinas Antapura
  8. Posyandu Mawar II Banjar Dinas Antapura
  9. Posyandu Kemuning Banjar Dinas Tegalsumaga
10.  Posyandu Melati Banjar Dinas Kanginan
11.  Posyandu Cempaka I Banjar Dinas Kelodan
12.  Posyandu Cempaka II Banjar Dinas Kelodan
13.  Posyandu Dahlia I Banjar Dinas Sukadarma
14.  Posyandu Dahlia II Banjar Dinas Sukadarma
POTENSI DESA YANG DIKEMBANGKAN
  1. Pariwisata Bahari (Camplung)
  2. Home Industri pembuatan Jaja Gina, Dodol, Pembuatan minyak Kelapa
  3. Kerajinan tangan ingka, Emas dan Perak

SARANA DAN PRASARANA MEDIA INFORMASI
  1. Jumlah sarana computer pada kantor Desa : 4 unit (Pentium III, IV)
  2. Jumlah Penduduk yang mempunyai TV dan Radio : 2.405 Orang
  3. Jumlah Penduduk yang berlangganan Koran : 40 Orang
  4. Jumlah penduduk yang mempunyai : telepon / HP : 30 telepon, 3060 Hp
  5. Jumlah penduduk yang mempunyai computer : 214 orang

Pura Segara Penimbangan di Desa Panji



PURA Segara Penimbangan di Desa Panji Kecamatan Sukasada, Buleleng bukanlah Pura Segara seperti Pura Segara pada umumnya yang fokusnya memuja Tuhan sebagai Batara Baruna -- Tuhan sebagai penguasa samudera. Pura Segara Penimbangan di samping sebagai Pura Segara pada umumnya juga sebagai pura yang memiliki kaitan dengan sejarah Ki Gusti Anglurah Panji Sakti.

Orang terkenal ini memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menerapkan ilmu pengetahuan dalam menolong sesama yang sedang kesusahan. Ki Gusti Anglurah Panji Sakti yang sebelumnya bernama Ki Barak Panji menolong mereka yang sedang kesusahan dengan menggunakan ilmu pengetahuannya yang telah memperkuat dirinya secara lahir batin. Ilmu yang mampu diterapkan seperti itulah yang dapat membuat orang kuat dan hebat. Kuat dalam bahasa Sansekertanya disebut sakti.

Keberadaan Pura Segara Penimbangan ini dibangun atas dua hal yaitu sebagai Pura Segara untuk memuja Batara Segara yang tiada lain adalah Batara Baruna dan sebagai memuja roh suci (Dewa Pitara) Ki Gusti Anglurah Panji Sakti. Sebagai orang yang memiliki kemampuan mendayagunakan ilmunya untuk menolong orang lain.

Ki Gusti Anglurah Panji Sakti sendiri tidak menggunakan ilmunya untuk tujuan yang sempit, seperti menyombongkan diri, cari kekayaan yang tidak sah atau dijadian media untuk mengumbar hawa nafsu. Ki Gusti Anglurah Panji Sakti telah mampu menjadi contoh masyarakat luas bahwa memang demikianlah seseorang dalam menggunakan ilmunya itu.

Umat yang merasakan pertolongan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti itulah yang mungkin menambahkan fungsi Pura Segara Penimbangan ini menjadi media pemujaan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti. Dalam statusnya yang sudah mencapai Dewa Pitara dan dipuja oleh masyarakat, ini berarti Pura Segara Penimbangan di samping sebagai pura untuk memuja Tuhan di Bhur Loka sebagai Batara Baruna juga sebagai pemujaan orang sakti yang telah berhasil menggunakan ilmunya untuk menolong mereka yang sedang kesusahan.

Keberadaan Pura Segara, Pura Penataran dan Pura Puncak konon konsep pemujaan Tuhan di Tri Loka yaitu di Pura Segara untuk Bhur loka, Pura Penataran untuk Bhuwah Loka dan Pura Puncak untuk Swah Loka. Tiga pemujaan tersebut konon sudah ada sebelum Mpu Kuturan mengajarkan tentang pendirian Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman.

Dengan demikian sangat besar kemungkinannya Pura Segara Penimbangan di Desa Panji Kecamatan Sukasada itu sudah ada sebelum ada pelinggih untuk memuja Ki Gusti Anglurah Panji Sakti dalam statusnya yang sudah mencapai Dewa Pitara atau Siddha Dewata. Roh suci atau Dewa Pitara dari Ki Gusti Anglurah Panji Sakti itu distanakan di sudut barat laut Pura Segara Penimbangan dengan sebutan Dewa Taksu Bungkah Kaang.

Pelinggih tersebut sebagai pelinggih yang menyebabkan Pura Segara Penimbangan ini memiliki ciri yang khusus dan berbeda dengan Pura Segara yang lainnya di Bali. Pelinggih-pelinggih yang lainnya merupakan pelinggih utama seperti Padmasana dan beberapa Pelinggih Penyawangan seperti Penyawangan ke Ulun Danu, Dewa Ayu Putering Segara sebagai manifestasi Ida Batara Segara (Dewa Baruna). Dewa Ngurah Pasek karena Ki Gusti Anglurah Panji Sakti ibunya Si Luh Pasek.

Ada juga Penyawangan untuk Dewa Ngurah Majapahit. Ki Gusti Anglurah Panji Sakti adalah putra dari Dalem Sagening dengan istri penawing atau selir Si Luh Pasek berkuasa di Bali atas jasa-jasa Raja Majapahit, karena itu ada juga penyungsungan kepada roh suci Raja Majapahit.

Nama-nama pelinggih di Pura Segara Penimbangan itu umumnya sudah menggunakan sebutan masyarakat pada umumnya. Menurut budaya Bali menyebutkan nama seseorang yang dihormati secara langsung pada zaman dahulu amat tabu atau tidak dibolehkan.

Kalaupun menyebutkan nama secara langsung harus didahului dengan ucapan tabe pakulun, baru nama yang akan dituju boleh disebutkan. Kalau menyebutkan nama seseorang yang dihormati secara langsung tanpa menyebutkan terlebih dahulu ucapan tabe pakulun menurut keyakinan orang Bali Hindu, orang tersebut akan tulah atau disebut kewalat.

Keyakinan tersebutlah yang menyebabkan sebutan-sebutan yang dipuja di setiap pelinggih itu agak sulit melacak menurut sistem pemujaan sistem pantheon Dewa-dewa Hindu. Yang jelas Pura Segara Penimbangan ini terkait dengan konsep pelestarian alam dan masyarakat yang dituangkan dalam ajaran Sad Kerti sebagaimana diajarkan dalam Lontar Purana Bali.

Salah satu dari Sad Kerti itu adalah Samudeara Kerti yaitu ajaran untuk mengingatkan umat Hindu untuk senantiasa menjaga kelestarian samudera. Pendirian Pura Segara di beberapa pantai di Bali salah satu tujuannya adalah pemujaan kepada Tuhan untuk memohon agar umat termotivasi secara spiritual untuk senantiasa memperhatikan kelestarian samudera.

Dari samudera itulah air menguap menjadi mendung. Mendung yang turun menjadi hujan ditampung oleh hutan. Hutan yang menampung air itu terus menjadi sumber terwujudnya danau. Di Pura Segara Penimbangan terdapat Pelinggih Dewa Ngurah Ulun Danu. Pemujaan di Pelinggih Ulun Danu inilah umat dimotivasi secara spiritual agar menjaga kelestarian danau.

Dalam ajaran Sad Kerti terdapat unsur Danu Kerti sebagai amanat kitab suci untuk menjaga secara baik agar danau itu tidak rusak tercemar perilaku yang tidak terpuji pada sumber air sebagai unsur alam yang paling menentukan kehidupan di bumi ini. Pura Segara juga betujuan untuk menanamkan wawasan kelautan atau wawasan maritim kepada umat Hindu bahwa laut itu memegang peranan yang strategis dalam kehidupan di bumi ini.

SEJARAH DESA GITGIT

SELAYANG PANDANG DESA GITGIT,
KECAMATAN SUKASADA,KABUPATEN BULELENG
Alamat : Jalan Jurusan Singaraja – Bedugul, Telp (0362) 26238



1. Nama Desa : Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada

a. ` Sejarah singkat Desa :
SEJARAH DESA GITGIT

Pada jaman Pemerintahan Belanda tahun 1939 yang bermarkas di Pesanggrahan Desa Gitgit, yang sekarang dikenal dengan Restoran “Boga Sari “ oleh salah satu pegawai Belanda yang bernama Dr. C. HOOYKAS yang pada saat itu bertugas sebagai Kepala Liefring Van Der Tuuk yang kini dikenal dengan nama “ Gedong Kertya “ menyebutkan bahwa Desa Gitgit adalah daerah yang kondisi Tofografinya sangat curam, berbukit – bukit, bertebing tinggi, jenis tanah vulkanik berbatu yang bersifat labil, batu padas yang tajam menggigit; Potensi alam kondisi fisik dan fisis lingkungan dapat memberikan keindahan, keunikan secara aktif baik fisik, sosial, budaya, religius yang dapat memberikan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
Selanjutnya sebagai tempat yang sejuk ini maka raja Buleleng memerintahkan Ki Patih Gempol bersama panjaknya untuk menggali dan mengalirkan air yang ada dengan membuat saluran ( Telabah ).
Ditengah keputus asaan para panjaknya membuat saluran air itu Ki Patih Gempol tidak henti – hentinya memberikan semangat , hingga suatu saat beliau berkata “ Gitgit Kang Sinungkal Dong Antar Ri Wekas . Batu Padas ( Gitgit ) batu bergerigi tajam kalau digali lama – lama airnya pasti akan mengalir ( tersalur ) dan tidak terlalu lama ternyata ucapan itu benar, hingga dari mata air mengalir melalui sela sela batu yang akhirnya untuk mengairi sawah.
Akhirnya dari Sejarah dan proses penggarapan Gitgit ( batu bergerigi tajam ) inilah maka desa ini sampai sekarang disebut DESA GITGIT.
b. Lambang dan artinya


TEGES / ARTOS NYASA :
1. Dasar mebucu lima : Cihna Pancasila Dasar Panegare Repoblik Indonesi make Dasar Pemikul Dese Pakraman.
2. Binang : Cihna tetep ajeg majeng ring Ida Sanga Hiyang Widhi Wasa.
3. Candi Bentar : Pinake simbul Pura Kahyangan Dese sane ngicenin sinar suci
4. Sang Tapa : Cihna gumanti ngerannjing kasukertaan desa.
5.Gunung :Genah Desa Pakraman ring pegunungan turmaning presida ngamertaning
wawengkon Desa.
6. Padi Kapas kaiket Tali tetiga : Cihna kelandungan, saha presida nincapang TRI HITA KARANA.
7. Batu Ridang : Cihna dasar sane kukuh.
8. Sesati man anusmara yudya : Stata eling ring Ida Sang Hiyang Widhi Wasa, saaha manut SahaSekale lan niskala.
TEGES / ANTOS WARNA :
1. Pelung nguda langit : Cihna langit, tatuweknyane stata mapikayun hening / bersih saha tan mari ngardi rahayu.
2. Abu-abu : Cihna kakukuhan idep, kesetiaan, siaga.
3. Kuning : Cihna keagungan
4. Putih muang gadang : Cihna kawibuhan, kelandungan
5. Oranye : Cihna sinar suci.
6. Coklatr : Cihna Ibu Pertiwi.

2. Visi dan Misi :

3. Luas wilayah Desa : 12 Km2 .
Pemanfaatan wilayah.
a. Perkebunan : 67 ha.
b. Pertanian : 407,48 ha.
c. Lain lain : 106,5 ha.
d. Tegal : 617,52 ha
e. Kuburan : 1,5 ha.
4. Letak dan batas batas Desa :
a. Utara : Wilayah Desa Padang bulia.
b. Timur : Wilayah Desa Pegayaman.
c. Selatan : Wilayah Desa Wanagiri.
d. Barat : Wilayah Desa Ambengan.
5. Jarak Pemerintahan Desa Ke :
a. Kecamatan : 8 Km.
b. Kabupaten : 10 Km.
c. Provinsi : 67 Km.
6. Jumlah Dusun dan nama nama Dusun.
a. Dusun/ Br Dinas Pumahan.
b. Dusun/ Br Dinas Gitgit
c. Dusun / Br Dinas Pererenan bunut.
d. Dusun / Br Dinas Wirabhuwana.
8. Jumlah Penduduk:
a. Laki laki : 1489 Jiwa.
b. Perempuan : 1478 Jiwa.
9. Mata Pencaharian Penduduk . :
a. Bertani.
b. Berdagang
c. Wiraswasta.
10. Organisasi :
a. Subak : Gitgit.
b. Subak : Abian Tri Karya.
c. Subak : Keladian.
d. Subak : Abian Sila kerti.
e. Teruna Teruni : Satya Mandala Giri Desa Gitgit.
11. Potensi desa yang di kembangkan seperti :
a. Pertanian : Padi, Palawija.
b. Peternakan : Ayam Pedaging, Sapi, Kambing.
c. Pariwisata :
- Air Terjun Gitgit.
- Air Terjun Campuhan,
- Air Terjun Bertingkat.
d. Kerajinan Tangan : Produksi sarana persembahyangan ( kerajinan dulang ).
12. Sarana Pendidikan antara lain :
a. TK Kumarastana Desa Gitgit.
b. SDN 1,2,3,4 Gitgit.
13. Sarana Kesehatan :
a. Pos Yandu : 4 buah.
b. Puskesmas : 1 buah.
14. Sarana dan prasarana media informasi :
a. Jumlah sarana computer pada kantor desa : 2 buah.
b. Jumlah penduduk yang mempunyai TV,radio : 1500 buah.
c. Jumlah penduduk yang berlangganan Koran : 6 orang
d. Jumlah penduduk yang mempunyai telp, HP :1653 orang, Telp = 2 orang.
e. Jumlah penduduk yang mempunyai computer :25 orang.

Demikianlah untuk dapat di maklumi.

Perbekel Desa Gitgit
Ttd
I Made Suputrayasa,SE

KRONOLOGI SEJARAH LOVINA



Tahun 1949 tanah air kita, Indonesia, mulai terbebas dari kehadiran penguasa kolonial Belanda.
Anak Agung Panji Tisna pernah berpesan kepada para generasi muda, bahwa di jaman
kemerdekaan ini agar generasi muda belajar mandiri, bila perlu menjadi wiraswasta. Beliau memberi
contoh konkrit. Setelah beliau membangun gedong bioskop “Maya Theater”, beliau mendirikan
perguruan “Bhaktyasa”, kemudian perpustakaan UAB (Udyana-Adnyana-Buana). Disamping itu A.
A. Panji Tisna sangat mencintai pertanian dan beliau membangun perkebunan jeruk di areal
perbukitan desa Seraya - Buleleng. Hasil buah jeruknya waktu itu sangat bersaing dengan jeruk
Tejakula / Bondalem.

Tahun 1953 beliau (A.A.Panji Tisna) mulai membangun tempat istirahat di tepi pantai berlokasi di
pantai Kampung Baru, desa Tukad Cebol (sekarang desa Kaliasem). Selain dibangun restoran juga
dibangun 3 kamar tamu.
Peristirahatan itu diberi nama Lovina.
A.A. Md. Udayana (dr.A.A.Md Udayana almarhum) dan A. A. Ngurah Sentanu yang sedang remaja
ikut membantu proses pembangunan tersebut. A.A. Panji Tisna berpesan agar jangan ada orang
berburu dilokasi itu. Sebuah papan dipasang dengan tulisan: "Biarlah tupai dan burung hidup bebas".
A.A. Md. Udayana berangkat ke Belanda untuk melanjutkan sekolahnya disana. Sedangkan A.A.
Ngurah Sentanu melanjutkan aktif  meladeni tamu pengunjung di restoran Lovina, yang ramai pada
hari Minggu dan hari Raya. Waktu itu, selain pelajar dan umum,  pengunjung banyak dari kalangan
birokrat, kepala kantor / instansi, dokter, kepala bank. Waktu itu Singaraja adalah ibu kota provinsi
Nusa Kecil / Nusa Tenggara.

Tahun 1959, A A Panji Tisna sering memberikan wejangan. Beliau berkata, bahwa peristirahatan
Lovina ini lebih cocok dikelola oleh orang muda. Kemudian beliau menganjurkan agar A. A. Ngurah
Sentanu melanjutkan usaha Lovina itu. Untuk itu dibuatkan surat akta jual beli dihadapan Punggawa
Banjar. Sejak itu A.A. Ngurah Sentanu mulai belajar berwiraswasta sekaligus menjadi pelayan
restoran Lovina, dengan mengajak kakak perempuannya A. A. Istri Bintang sebagai tukang masak.

Namun setahun kemudian (1960), ibu kota provinsi Nusa Kecil yang selama ini adalah Singaraja, di
pindah ke Denpasar. Perobahan itu menjadikan Singaraja hanya sebagai kota kabupaten yang makin
lama makin sepi. Nasib Lovina mendapat tantangan. Berangsur-angsur Lovina tidak bertahan
secara bisnis. Akhirnya "Lovina" terbengkalai, bangunan banyak mengalami kerusakan.

Dalam majalah Reader’s Digest terbitan 1970an, ada tulisan mengenai Lovina yang dahulu pada
tahun 1959 pernah di kunjungi penulisnya.  Ditulisan itu disebutkan Lovina sebagai tempat wisata
pantai yang masih perawan di Bali. Ini adalah merupakan tonggak yang banyak orang tidak
mengetahui, mengapa nama Lovina bisa meloncat dikenal dunia. Sedangkan waktu itu usaha
pariwisata di Indonesia belum dikenal secara umum. Setelah presiden Soekarno membangun Bali
Beach Hotel  di Sanur (mulai dibangun pada tahun 1963), barulah usaha pariwisata mulai dikenal.

Tahun 1970. Bandara Ngurah Rai dibuka untuk penerbangan internasional. Sejak itu Bali
kedatangan banyak turis. Di Buleleng para turis langsung mencari “Lovina” yang nyatanya belum
siap. Segera A A Panji Tisna membangun hotel Tasik Madu tahun (1971) yang letaknya kurang
lebih 100 meter di sebelah barat "Lovina". Selanjutnya, Anak Agung Ngurah Agung membangun
"Manggala Homestay" secara bertahap. Sedangkan A. A. Ngurah Sentanu sebagai pemilik "Lovina"
yang bangunannya banyak mengalami kerusakan, sangat kekurangan modal dan merasa “ewuh
pakewuh” untuk bersaing dengan keluarga sendiri.



Tahun 1975, A A Gothama mulai mengelola “Ayodia Accommodation” dengan cara beberapa
kamar purinya di desa Kalibukbuk dibuka sebagai guestrooms atau kamar hotel. Nama "Ayodia
Accommodation" pernah meng-global namanya karena Tony Wheeler dalam salah satu buku guide
terbitan 1980an “South East Asia On A Shoestring”, menulisnya sebagai “The best small hotel in
the world”.


Tahun 1978 perintis pariwisata, A.A. Panji Tisna wafat dan jenazahnya disemayamkan di hotelnya,
"Tasik Madu" di desa Kaliasem. Selanjutnya dikuburkan secara Kristen di pekuburan keluarga di
Bukit Golgota di bukit Seraya. Perihal Hotel Tasik Madu selanjutnya dikelola oleh salah seorang
isteri beliau beserta anak2nya..

"Lovina" yang selama hampir satu generasi (20 tahun) terbengkalai, yang banyak orang bahkan
sudah melupakannya, mulai 1979 dibenahi oleh pemiliknya A. A. Ngurah Sentanu. Pada Desember
tahun itu juga sudah mulai menerima turis.

Perlu dicatat, bahwa sejak tahun 1980 Buleleng mulai "booming". Tempat tujuan yang dikenal
wisatawan waktu itu terutama adalah "Lovina" dan "Ayodia" selain "Air Sanih"
Note: Teman-teman pengusaha juga mulai membangun hotel dan restoran. Di pantai Kubu
Gembong (pantai Anturan), ada "Simon /Yuda Cottages", "Mandara Homestay", "Agung
Homestay", "Lila Cita", "Jati Reef" di pantai Tukadmungga (sekarang Pantai Hepi).
Sedangkan putra almarhum A.A. Panji Tisna, A.A Made Jelantik merintis di sebelah barat pantai
Tanjung Alam dengan membangun "Krisna" Homestay.

Bersamaan dengan itu di Bali mulai ada wisata convensi. Pihak Kepolisian lebih meningkatkan
keamanan di Bali, tentunya di Buleleng juga. Komandan Resort (Danres) Buleleng, Letkol Drs. I
Gde Made Wismaya minta para pengusaha pariwisata di Buleleng supaya membuat wadah
/organisasi kepariwisataan, utamanya pengusaha hotel. Waktu itu tidak memungkin membentuk
cabang PHRI di Buleleng, karena struktur PHRI hanya ada di daerah tingkat I, maka dibuatlah
Himpunan Pengusaha Penginapan Buleleng (HPPB). Teman-teman menunjuk A. A. Ngurah
Sentanu sebagai Ketua Umum.

Akhir tahun 1980, ada Kunjungan Kerja Gubernur, waktu itu Prof. Ida Bagus Mantra, akan ke
Buleleng. Danres dan Bupati (Drs I Nyoman Tastera) minta kepada A. A. Ngurah Sentanu sebagai
ketua organisasi pariwisata untuk menemani bapak Gubernur untuk minta perhatian beliau, karena
kita (Buleleng) sedang gencar mempromosikan pariwisata. Antara lain dalam rangka kunjungannya
agar Gubernur meninjau perpustakaan Panji Tisna dan “Lovina”. Kebetulan "Lovina" belum
beroperasi penuh, masih dalam proses pembangunan. Bapak Gubernur sangat antusias dengan
semangat masyarakat yang sedang giat membangun, khususnya di bidang pariwisata.  

Setelah menyatakan dukungannya dalam pengembangan pariwisata, Bapak Gubernur Prof. Ida
Bagus Mantra berpesan agar nama “LOVINA’ jangan dikembangkan, karena nama itu tidak berasal
dari ucapan bahasa Bali, tegasnya. Pakai saja nama lain yang sesuai, seperti Pantai Tasik Madu,
bukankah nama itu cukup bagus, juga ciptaan A.A.Panji Tisna. Tidak perlu pakai "Lovina".
Demikian Prof. Ida Bagus Mantera menegaskan.




Tahun 1985, Bapak Bagus Putu Kari diganti oleh Bapak A. A. Ngurah Sentanu sebagai ketua PHRI
Sub-Komisariat Buleleng yang masa baktinya dijalani selama dua periode.
Note: Perlu dicatat Dinas Pariwisata di Buleleng waktu itu belum ada.  A. A. Ngurah Sentanu
sebagai ketua PHRI Sub-Komda Buleleng bersama teman-teman anggotanya secara kompak,
dengan pelbagai cara mempromosikan pariwisata Buleleng.Tahun 1980 - 1985 statistik kunjungan
tamu di Buleleng 15 -20% per tahun. Dibandingkan untuk  Bali 10 -12% per tahun. Memang waktu
itu Buleleng sedang booming

Tahun 1987, Bapak Drs. I Ketut Ginantra waktu menjabat Bupati Buleleng, sangat concern
terhadap pembangunan pariwisata di Buleleng. Saking gebunya sampai-sampai kurang cermat
melihat rambu-rambu peraturan provinsi Bali. Banyak kemajuan untuk Buleleng, namun kebijakan
pariwisata banyak yang kebablasan. Banyak hotel dan restoran dibangun tetapi usahanya sulit
berjalan, kurang promosi dan sarana umum belum memadai. Banyak pengusaha kesulitan untuk
pengembalikan kredit bank.
Batas kawasan kabur. Pembangunan kurang terkontrol. Nama “Lovina” yang selama ini dianggap
"tabu" akhirnya banyak dipakai begitu saja oleh siapa saja untuk apa saja dan dimana saja. Karena
adanya anjuran demikian.

A. A. Ngurah Sentanu sebagai pemilik "Lovina" yang secara legal mendapatkan langsung dari
penciptanya yaitu A. A. Panji Tisna merasa perlu menghadap Dinas Pariwisata provinsi Bali
Setelah diceritakan kembali asal usul nama "Lovina", A.A. Ngurah Sentanu merasa bersukur sekali
beliau-beliau di Dinas Pariwisata Bali sangat memahami. Dan nama hotel "Permata Cottages"
seketika itu juga dijinkan untuk kembali menjadi “Lovina Beach Hotel”.  A. A. Ngurah Sentanu
berkata menyatakan minta maaf sedalam-dalamnya kepada almarhum Ida Bagus Mantra, yang
tetap dihormati walaupun sudah di alam sunia.
 
  
Tahun 1980. A.A. Ngurah Sentanu terus membangun “Lovina” menjadi sebuah hotel. Tetapi,
karena pesan Gubernur dan sosok pribadi Ida Bagus Mantera yang dihormati dengan tulus, nama
"Lovina" tidak dipakai, melainkan memakai nama “Permata Cottages”.

Tahun 1981 Pembangunan hotel di Buleleng meluas .Para pengusaha sangat kreatif dengan ciptaan
nama perusahaanya masing-masing. "Hotel Baruna", "Hotel Aditya", "Angsoka" Cottages,
"Nirwana" Seaside Cottages, "Samudra", "Kalibukbuk", "Banyualit", "Celuk Agung", "Astina" dan
banyak nama inspiratif lainnya.

Turun Perda 1981 mengenai nama-nama kawasan wisata di Bali. Antara lain tercantum “Kawasan
Wisata Kalibukbuk" yang kemudian menjadi "Kawasan Wisata Kalibukbuk/ Lovina."
 

Runtuhnya Kerajaan Bedahulu.


Seperti terbaca dalam berbagai buku maupun babad, bahwa sebagai tonggak
sejarah Bali adalah peristiwa pada tahun 1343, pada waktu Maha Patih Gajah Mada
dalam usahanya untuk menguasai Bali. Kerajaan Bali waktu itu dipimpin oleh Sri
Gajah Waktra  alias Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang sangat perkasa dengan
para patih dan prajurit pilihan sudah merasa mampu, ingin punya kerajaan yang
lepas dari kekuasaan yang berpusat di Majapahit. Walaupun beliau sebenarnya
berasal dari Majapahit, namun ingin punya kerajaan sendiri yang berbeda, tidak
mau berada dibawah Majapahit. Karena Raja Bali Sri Astasura Ratna Bumi Banten
"tampil beda", maka disebut "Raja Bedahulu” dan kerajaannya dinamakan
"Kerajaan Bedahulu”.
Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Sri Ratu Tribhuwanatunggadewi, tidak bisa
menerima adanya kerajaan saingan seperti kerajaan "Bedahulu”. Maka Patih Gajah
Mada berangkat ke Bali dengan pasukan pilihan dan menggempur Bali. Ternyata
memang kerajaan "Bedahulu” tidak mudah dikalahkan. Dalam bebarapa kali
penyerangan, akhirnya Kerajaan Bedahulu dapat ditaklukkan. Patih Ki Pasung
Grigis dan Panglia Perang Ki Kebo Iwa dapat dibinasakan dengan tipu daya yang
cerdik dari Maha Patih Gajah Mada. Dengan lenyapnya kerajaan Bedahulu, maka
selanjutnya Negara Bangsul (Bali) diserahkan kepada Kyai Agung Pasek Gelgel
dan Mpu Wijaksara yang dikenal dengan nama Ki Patih Wulung yang selama
kurang lebih 7 tahun terus berjuang mengamankan Bali.
Karena merasa sudah selesai tugasnya, maka Patih Wulung dan Kyai Agung Pasek
Gelgel merasa perlu untuk datang ke Majapahit untuk melaporkan keberadaan Bali.
Setelah dirundingkan maka Patih Gajah Mada menganggap sudah waktunya
mencari seorang raja berasal dari kerajaan Majapahit untuk dinobatkan di Bali
sebagai Adipati. Untuk itu lalu dipilih yang terbaik di antara putra-putri Danghyang
Kapakisan yang tidak lain adalah Bagawanta kerajaan Majapahit, untuk mengisi
jabatan di daerah-daerah yang telah dikuasainya. Putra kepertama menjadi Adipati
di Blambangan, Putra kedua menjadi Adipati di Pasuruhan, Putra ketiga (putri)
menjadi Adipati di Sumbawa dan Putra keempat menjadi Adipati di Bali. Empat
bersaudara tersebut berasal dari keturunan Brahmana (Empu Soma Kapakisan)
yang telah diturunkan tingkat kebangsawanannya menjadi Ksatrya agar sesuai
menjabat sebagai Adipati.

Dalem Ketut Kresna Kapakisan Adipati Bali.

Sejak tahun 1350M yang menjadi Adipati atau Raja di Bali bergelar Dalem Ketut
Kresna Kapakisan. Istana beliau dibangun di Samprangan (sekarang Samplangan,
Gianyar) sebagai pusat pemerintahan, maka beliau diberikan gelar Dalem
Samprangan. Patih Gajah Mada melengkapi Dalem dengan beberapa benda
pusaka bertuah asal Majapahit, seperti Keris Ganja Dungkul dan kelengkapan
istana lainnya. Pemerintahan Dalem Samprangan didampingi oleh para Arya dari
Jawa seperti:  Arya Wang Bang ditempatkan di Samprangan, Arya Kanuruhan di
Tangkas, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kaba-kaba, Arya Kutawaringin di
Klungkung, Arya Sentong di Carangsari, Arya Pamacekan di Bondalem, Arya Getas
di Tianyar, Arya Belentong di Pacung, Arya Manguri, Arya Pangalasan.
Dalam pada itu, untuk mendukung pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kapakisan,
warga I Gusti Pasek Gelgel yang sudah banyak jumlahnya diberikan tugas sebagai
Bendesa untuk memelihara parahyangan dan upacara yadnya di seluruh wilayah
Balidwipa. Untuk itu mereka diberikan areal tanah masing-masing dengan luas
tertentu untuk penghidupannya. Selain itu ada juga beberapa yang diangkat
sebagai prajurit dan pejabat di pemerintahan.
Dalem Ketut Kresna Kapakisan ternyata kurang memahami kondisi masyarakat Bali
pada umumnya yang telah mempunyai adat kebiasaan dan budaya masing-masing
wilayah, terutama dalam masyarakat Bali Aga. Pemerintahan Dalem Samprangan
dianggap terlalu sentralistik dengan menempatkan para Arya dari Wilwatikta
(Majapahit) sebagai wakil pemerintahan sampai di daerah-daerah dengan
penguasaan wilayah serta tanah dengan penduduknya berkewajiban bayar upeti.
Maka timbul pemberontakan di pelbagai desa seperti: Batur, Cempaga, Songan,
Kedisan, Abang, Pinggon Muntig, Pludu, Kintamani, Srahi, Manikliu, Bonyoh, Taro,
Bajad, Sukawana. Juga desa Culik, Tista, Basangalas, Got, Margatiga, Sekul
kuning, Garinten, Lokasrana, Puhan, Bulakan, Tulamben dan desa lainnya. Untuk
meredam gejolak di pelbagai pelosok wilayah, Patih Gajah Mada mendatangkan
Arya Gajah Para yang ditempatkan di Toya Anyar (Tianyar). Kemudian juga
menempatkan golongan Wesia yang bernama Tankober, Tankawur, Tan Mundur
untuk menjaga keamanan di Bali. Setelah itu kondisi keamanan menjadi lebih baik
sementara waktu.

Sri Nararya Kapakisan sebagai Perdana Menteri.

Pergolakan masih juga terjadi dan kondisi yang berkepanjangan ini membuat Sang
Adipati Dalem Kresna Kapakisan putus asa dan ingin meletakkan jabatan, bahkan
ingin kembali pulang ke Majapahit. Dalam keadaan demikian, maka segera dikirim
utusan ke Majapahit dipimpinan Patih Wulung untuk minta petunjuk Patih Gajah
Mada. Setelah mengadakan perundingan dengan Patih Wulung dan Kyai Agung
Pasek Gelgel, maka Patih Gajah Mada memutuskan untuk segera memerintahkan
Arya Kapakisan dari Kadiri untuk ikut ke Bali dan segera diangkat sebagai Patih
Agung kerajaan Bali. Pada tahun 1352M Arya Kapakisan diangkat oleh Patih Gajah
Mada sebagai Patih Agung setingkat Perdana Menteri kerajaan Bali. Adipati Dalem
Kresna Kapakisan sangat senang menyambut pengangkatan Sri Arya Kapakisan
sebagai Perdana Menteri sekaligus sebagai Penasehat Dalem.
Tahun 1380 Dalem Ketut Kresna Kapakisan wafat, beliau diganti oleh putra sulung
Sri Agra Samprangan yang sifatnya suka bersolek. Beliau kurang hirau pada
pemerintahan. Seringkali para Patih dan Punggawa menunggu lama di balairung
namun sia-sia karena Dalem tidak juga keluar. Karena demikian beliau dinamai
Dalem Ile.
Melihat keadaan demikian, Ki Gusti Kebon Tubuh berusaha mencari adik Dalem Ile
sebagai pengganti. Namun adiknya yang senang berjudi itu sulit ditemukan, selalu
berpindah tempat. Akhirnya ditemukan di desa Pandak, maka beliau disebut
dengan nama Ketut Ngulesir. Semula beliau menolak menggantikan Dalem Ile
sebagai Adipati, namun karena rayuan Ki Gusti Kebon Tubuh, akhirnya beliau mau
dinobatkan sebagai Adipati. Tetapi dengan permintaan agar beristana di Gelgel
yang disebut Swecapura, tidak lain adalah rumah kediaman Ki Gusti Kebon Tubuh.
Permintaan itu disetujui oleh Para Menteri dan para petinggi kerajaan. Sedangkan
Dalem Ile dibiarkan saja di Istana Samprangan.

Dari Samprangan pindah ke Gelgel.
 Pusat pemerintahan ada di Gelgel, tidak lagi di Samprangan, dengan Adipati Dalem
Ketut Ngulesir atau lebih dikenal dengan nama Sri Smara Kapakisan, karena beliau
berwajah tampan. Dalam mengemudikan pemerintahan Sri Smara Kapakisan cukup
bijaksana karena membawa kemakmuran rakyat.
Perdana Menteri Sri Nararya Kapakisan juga pindah ke Gelgel membangun Puri
Kapatihan dekat istana Dalem. Setelah Sri Smara Kapakisan mangkat, beliau
diganti oleh Dalem Watu Renggong yang melanjutkan kebijakan pemerintahan
Gelgel sehingga kemakmuran rakyat merata  ke segala bidang kehidupan. Dalam
perkembangan pemerintahan di Gelgel, Dalem Waturenggong juga mengangkat
beberapa petinggi sesuai pilihannya sendiri.seperti Arya Ularan sebagai Panglima
Perang dengan pasukan Dulang Mangap yang terkenal tangguh. Dalem
Waturenggong memerintahkan Panglima Perang / Patih Arya Ularan untuk
menyerang Blambangan dan berhasil menang. Tetapi karena kekeliruannya
mendengar perintah Dalem, Patih Ularan disalahkan oleh Dalem dan disingkirkan ke
Den Bukit.
Setelah Perdana Menteri Sri Nararya Kapakisan wafat, digantikan oleh putranya
yang pertama bernama I Gusti Nyuh Aya sebagai Perdana Menteri. I Gusti Nyuh Aya
mempunyai sejumlah putra maupun putri. Sesudah datang waktunya, beliau diganti
oleh putra pertamanya,  bernama I Gusti Petandakan, kemudian di ganti oleh I Gusti
Batan Jeruk sebagai Perdana Menteri.
Sedangkan putra ke-enam I Gusti Nyuh Aya yang bernama I Gusti Cacaran yang
juga dikenal dengan nama I Gusti Ngurah Jelantik (I) tidak mempunyai jabatan
penting, memilih mengungsi ke desa Pesinggahan.



I Gusti Ngurah Jelantik sebagai Panglima Perang.Untuk mengisi kekosongan jabatan, Dalem Waturenggong memanggil keturunan I
Gusti Cacaran yang bergelar I Gusti Ngurah Jelantik untuk kembali ke Gelgel
dengan diberi jabatan Panglima Perang. Dalem Watu Renggong yang wafat di
sekitar tahun 1551M yang diganti oleh putranya bernama Dalem Bekung. Pada
tahun 1597 Dalem Bekung memerintahkan Panglima Perang I Gusti Ngurah Jelantik
(III) untuk menumpas pemberontakan di Blambangan dan Pasuruhan. Dalam perang
tanding dengan sengaja beliau tidak membawa senjata (mamogol), dan itu memang
dengan sengaja dilakukan agar terbunuh dalam perang untuk tujuan menebus dosa
leluhurnya. Beliau gugur meninggalkan isteri yang sedang hamil. Ketika putranya
lahir diberi nama Jelantik Bogol atau I Gusti Ngurah Jelantik (IV).
Kemudian Dalem Bekung digantikan oleh Dalem Sagening. Pada tahun 1621 Dalem
Sagening memerintahkan I Gusti Ngurah Jelantik (IV /Bogol) untuk menundukkan
penguasa Nusa Penida, Ki Dalem Bungkut atau Dalem Dukut atau Dalem Nusa.
Dengan keris kaliliran yang dijuluki Ki Pencok Saang, I Gusti Ngurah Jelantik Bogol
dapat membinasakan Dalem Bungkut dengan cara ksatria. I Gusti Ngurah Jelantik
Bogol mendapat pujian dan penghargaan dari Dalem Sagening. Namun hal itu
menimbulkan perasaan iri pihak pejabat lain. I Gusti Ngurah Jelantik Bogol (IV)
diganti oleh I Gusti Ngurah Jelantik V. Kemudian pada waktunya I Gusti Ngurah
Jelantik V digantikan oleh I Gusti Ngurah Jelantik VI.

Kekuasaan Gelgel melemah.
 
Dalem Sagening wafat tahun 1624. Beliau digantikan oleh putranya bernama Dalem
di Made yang masih muda. Para petinggi kerajaan Gelgel waktu itu sibuk dengan
urusannya sendiri-sendiri sehingga daerah-daerah seperti Sumbawa, Lombok dan
Blambangan berangsur dikuasai pihak lain. Keadaan Bali juga mulai gawat. Tahun
1639 pasukan Sultan Agung dari kerajaan Mataram menyerang Bali. Namun berkat
kesigapan I Gusti Ngurah Jelantik (VI), ayahanda I Gusti Ngurah Panji Sakti,
pasukan Mataram dapat diusir begitu turun dari kapalnya di Pantai Kuta sehinga
musuh lari tunggang langgang pergi tidak kembali lagi. Peristiwa itu membuat iri hati
bertambah, sehingga menimbulkan intrik di pihak para petinggi kerajaan, terutama
dari Patih Agung I Gusti Agung Maruti yang terus mempengaruhi Dalem yang masih
muda itu agar meminta keris pusaka (kaliliran) milik I Gusti Ngurah Jelantik bernama
Ki Pencok Saang yang sangat bertuah, namun I Gusti Ngurah Jelantik secara tegas
tidak akan menyerahkan pusaka nenek moyangnya itu. I Gusti Ngurah Jelantik dan
keluarganya telah beberapa kali mendapat serangan pasukan bersenjata suruhan I
Gusti Agung Maruti untuk membunuhnya namun selalu gagal. Dasarnya adalah
bilamana I Gusti Agung Maruti memiliki keris pusaka itu nantinya bisa menguasai
Dalem dan bisa lebih leluasa mengambil alih kerajaan Gelgel. Sifat ingin berkuasa I
Gusti Agung Maruti itu menimbulkan kegelisahan sehingga banyak petinggi
kerajaan dan masyarakat meningglkan Gelgel dan mengungsi ke tempat aman,
menyebar ke pelosok desa di Bali. Diantaranyan banyak keluarga pindah ke Den
Bukit (Buleleng) dan mendapat perlindungan I Gusti Ngurah Panji Sakti.
I Gusti Agung Maruti merebut kekuasaan Dalem Gelgel.Keinginan I Gusti Agung Maruti berhasil mengusir Dalem dan menguasai istana
Gelgel, kemudian pada tahun 1655 mengangkat dirinya sebagai penguasa kerajaan
Bali dengan nama Dalem Gelgel. Namun kedudukan I Gusti Agung Maruti sebagai
raja Bali atau Dalem Gelgel tidak diakui sehingga timbul beberapa penguasa
wilayah baru di Bali, seperti di wilayah Den Bukit dengan nama kerajaan Buleleng
yang dikuasai oleh I Gusti Ngurah Panji Sakti. Selain itu muncul kerajaan
Karangasem, Bangli, Mengwi, Gianyar, Jembrana, Tabanan, Badung dan kerajaan
lainnya. Kekuasaan I Gusti Agung Maruti sebagai Dalem Gelgel berakhir tahun
1686 oleh serangan koalisi dengan gugurnya Panglima Perang pasukan I Gusti
Agung Maruti yang bernama Ki Dukut Kerta yang berhasil dibunuh oleh Ki
Tamblang Sampun, Panglima Perang I Gusti Ngurah Panji Sakti dari kerajaan
Buleleng.
Kekuasaan Dalem di Gelgel runtuh.
 Walaupun I Gusti Agung Maruti telah melarikan diri namun kekuasaan Gelgel sudah
tidak mungkin dikembalikan lagi sebagai susuhan Bali. Pusat pemerintahan
berpindah ke Kelungkung yang disebut Semarapura dengan Dewa Agung Jambe
sebagai raja. Namun pemberontakan terjadi di seluruh Bali dengan beberapa
wilayah yang masing-masing berusaha membentuk negara sendiri.
I Gusti Anglurah Panji bertahan dengan keutuhan negara Buleleng.

Panji Sakti
 Arya Kapakisan adalah keturunan Raja Bali, Sri Dharma Udayana Warmadewa dan
juga Raja-raja Kadiri - Jawa Timur: Sri Airlangga, putra sulung suami isteri Sri
Dharma Udayana - Gunapriya Dharmapatni - Sri Semarawijaya - Sri Kamesawara -
Sri Jayasabha - Sri Sastrajaya. Sedangkan di Bali, yang meneruskan sebagai raja
dinasti Warmadewa adalah putra bungsu Sri Dharma Udayana, yang bernama Sri
Anak Wungsu sampai tahun 1080. Arya Kapakisan yang dibawa (kemBali) ke Bali
oleh Patih Gajah Mada diberi julukan Satriyeng Kadiri.
Sedangkan I Gusti Anglurah Panji Sakti, beliau adalah keturunan Aryeng Kadiri
melalui I Gusti Ngurah Jelantik - Panglima Perang sejak pemerintahan Dalem
Waturenggong, melalui Arya Cacaran, Perdana Menteri I Gusti Nyuh Aya - Perdana
Menteri kerajaan Bali pada jaman Dalem Ketut Kresna Kapakisan. Leluhurnya
adalah Sri Airlangga Raja Kediri. Bilamana diteruskan juga akan mengarah ke Bali
melalui Raja Bali abad ke XI Sri Udayana Warmadewa. Maka dalam perjalanan
hidupnya penuh perjuangan membangun kerajaan di Den Bukit dan selalu
mengkaitkan Bali dengan Jawa (Timur). Pada waktu Panji sakti sempat ke Solo,
beliau melihat langsung bekas kerajaan Kadiri - Panjalu – Jenggala yang
memprihatinkan. Sekembali dari Solo dan Blambangan, beliau membangun istana
bernama Puri Buleleng yang kemudian menjadi Kerajaan Buleleng. Maka ada
perkiraan para peneliti sejarah, bahwa Panji Sakti membangun kerajaan Buleleng
bermaksud membangun kembali kerajaan leluhurnya.
Buleleng adalah Jenggala ( =jagung gembal, Latin= Sorghum vulgare).

Dalam kebijakan membangun kerajaan Buleleng, Panji Sakti berbekal pada suatu
bentuk berlandaskan cinta kasih yang diberikan kepadanya oleh ayahandanya, I
Gusti Ngurah Jelantik yang memberikan dua buah pusaka (heirloom) berbentuk
keris Ki Semang dan sebuah tulup Ki Tunjungtutur atau Ki Pangkajatattwa. Bekal
berikutnya adalah kesadaran, bahwa walau dirinya hanya anak seorang selir tetapi
secara tegas ayahandanya mengakuinya sebagai putranya sendiri. Bekal
berikutnya, konsekuensi dia anak yang disisihkan dari kalangan keluarganya di
kerajaan Gelgel, dalam usia belia dikirim ke wilayah Den Bukit, hidup di tengah
keluarga ibunya, Ni Pasek Gobleg, di desa Panji, tumbuh dalam pembinaan
pamannya, Ki Wayan Pasek.
Maka disebutkan, kerajaan Buleleng dibentuk dengan pola pemerintahan
kerakyatan dengan semangat megoakgoakan, anti hegemony dengan rehabilitasi
pemerintahan Gelgel yang dikuasai I Gusti Agung Maruti dan menjadi penguasa
lokal di Den Bukit, anti imperialisme dengan aliansi ...
Sifat membela keluarga dan kerabat, seperti menyelamatkan keluarga Jelantik
(cucunda) keluar dari Gelgel yang runtuh dengan berpindah ke Blahbatuh dengan
pengawalan.
Dalam bidang spiritual, beliau mendalami ajaran "Kamahayanikan" yang kemudian
diberikannya kepada para sentana. Waktu piodalan di Pura Gedong di Blahbatuh,
selain memberi ajaran "Kamahayanikan"  dalam upacara "memeras cucu", beliau
menyerahkan sebuah benda pusaka tulup Ki Tunjungtutur sebagai tanda pertalian
keluarga.....

I Gusti Anglurah Panji Sakti menjalani kehidupan sederhana dan akhirnya moksah di
puri Panji - Buleleng.