z Runtuhnya Kerajaan Bedahulu. ~ Adi Ngurah

Kamis, 19 Mei 2011

Runtuhnya Kerajaan Bedahulu.


Seperti terbaca dalam berbagai buku maupun babad, bahwa sebagai tonggak
sejarah Bali adalah peristiwa pada tahun 1343, pada waktu Maha Patih Gajah Mada
dalam usahanya untuk menguasai Bali. Kerajaan Bali waktu itu dipimpin oleh Sri
Gajah Waktra  alias Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang sangat perkasa dengan
para patih dan prajurit pilihan sudah merasa mampu, ingin punya kerajaan yang
lepas dari kekuasaan yang berpusat di Majapahit. Walaupun beliau sebenarnya
berasal dari Majapahit, namun ingin punya kerajaan sendiri yang berbeda, tidak
mau berada dibawah Majapahit. Karena Raja Bali Sri Astasura Ratna Bumi Banten
"tampil beda", maka disebut "Raja Bedahulu” dan kerajaannya dinamakan
"Kerajaan Bedahulu”.
Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Sri Ratu Tribhuwanatunggadewi, tidak bisa
menerima adanya kerajaan saingan seperti kerajaan "Bedahulu”. Maka Patih Gajah
Mada berangkat ke Bali dengan pasukan pilihan dan menggempur Bali. Ternyata
memang kerajaan "Bedahulu” tidak mudah dikalahkan. Dalam bebarapa kali
penyerangan, akhirnya Kerajaan Bedahulu dapat ditaklukkan. Patih Ki Pasung
Grigis dan Panglia Perang Ki Kebo Iwa dapat dibinasakan dengan tipu daya yang
cerdik dari Maha Patih Gajah Mada. Dengan lenyapnya kerajaan Bedahulu, maka
selanjutnya Negara Bangsul (Bali) diserahkan kepada Kyai Agung Pasek Gelgel
dan Mpu Wijaksara yang dikenal dengan nama Ki Patih Wulung yang selama
kurang lebih 7 tahun terus berjuang mengamankan Bali.
Karena merasa sudah selesai tugasnya, maka Patih Wulung dan Kyai Agung Pasek
Gelgel merasa perlu untuk datang ke Majapahit untuk melaporkan keberadaan Bali.
Setelah dirundingkan maka Patih Gajah Mada menganggap sudah waktunya
mencari seorang raja berasal dari kerajaan Majapahit untuk dinobatkan di Bali
sebagai Adipati. Untuk itu lalu dipilih yang terbaik di antara putra-putri Danghyang
Kapakisan yang tidak lain adalah Bagawanta kerajaan Majapahit, untuk mengisi
jabatan di daerah-daerah yang telah dikuasainya. Putra kepertama menjadi Adipati
di Blambangan, Putra kedua menjadi Adipati di Pasuruhan, Putra ketiga (putri)
menjadi Adipati di Sumbawa dan Putra keempat menjadi Adipati di Bali. Empat
bersaudara tersebut berasal dari keturunan Brahmana (Empu Soma Kapakisan)
yang telah diturunkan tingkat kebangsawanannya menjadi Ksatrya agar sesuai
menjabat sebagai Adipati.

Dalem Ketut Kresna Kapakisan Adipati Bali.

Sejak tahun 1350M yang menjadi Adipati atau Raja di Bali bergelar Dalem Ketut
Kresna Kapakisan. Istana beliau dibangun di Samprangan (sekarang Samplangan,
Gianyar) sebagai pusat pemerintahan, maka beliau diberikan gelar Dalem
Samprangan. Patih Gajah Mada melengkapi Dalem dengan beberapa benda
pusaka bertuah asal Majapahit, seperti Keris Ganja Dungkul dan kelengkapan
istana lainnya. Pemerintahan Dalem Samprangan didampingi oleh para Arya dari
Jawa seperti:  Arya Wang Bang ditempatkan di Samprangan, Arya Kanuruhan di
Tangkas, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kaba-kaba, Arya Kutawaringin di
Klungkung, Arya Sentong di Carangsari, Arya Pamacekan di Bondalem, Arya Getas
di Tianyar, Arya Belentong di Pacung, Arya Manguri, Arya Pangalasan.
Dalam pada itu, untuk mendukung pemerintahan Dalem Ketut Kresna Kapakisan,
warga I Gusti Pasek Gelgel yang sudah banyak jumlahnya diberikan tugas sebagai
Bendesa untuk memelihara parahyangan dan upacara yadnya di seluruh wilayah
Balidwipa. Untuk itu mereka diberikan areal tanah masing-masing dengan luas
tertentu untuk penghidupannya. Selain itu ada juga beberapa yang diangkat
sebagai prajurit dan pejabat di pemerintahan.
Dalem Ketut Kresna Kapakisan ternyata kurang memahami kondisi masyarakat Bali
pada umumnya yang telah mempunyai adat kebiasaan dan budaya masing-masing
wilayah, terutama dalam masyarakat Bali Aga. Pemerintahan Dalem Samprangan
dianggap terlalu sentralistik dengan menempatkan para Arya dari Wilwatikta
(Majapahit) sebagai wakil pemerintahan sampai di daerah-daerah dengan
penguasaan wilayah serta tanah dengan penduduknya berkewajiban bayar upeti.
Maka timbul pemberontakan di pelbagai desa seperti: Batur, Cempaga, Songan,
Kedisan, Abang, Pinggon Muntig, Pludu, Kintamani, Srahi, Manikliu, Bonyoh, Taro,
Bajad, Sukawana. Juga desa Culik, Tista, Basangalas, Got, Margatiga, Sekul
kuning, Garinten, Lokasrana, Puhan, Bulakan, Tulamben dan desa lainnya. Untuk
meredam gejolak di pelbagai pelosok wilayah, Patih Gajah Mada mendatangkan
Arya Gajah Para yang ditempatkan di Toya Anyar (Tianyar). Kemudian juga
menempatkan golongan Wesia yang bernama Tankober, Tankawur, Tan Mundur
untuk menjaga keamanan di Bali. Setelah itu kondisi keamanan menjadi lebih baik
sementara waktu.

Sri Nararya Kapakisan sebagai Perdana Menteri.

Pergolakan masih juga terjadi dan kondisi yang berkepanjangan ini membuat Sang
Adipati Dalem Kresna Kapakisan putus asa dan ingin meletakkan jabatan, bahkan
ingin kembali pulang ke Majapahit. Dalam keadaan demikian, maka segera dikirim
utusan ke Majapahit dipimpinan Patih Wulung untuk minta petunjuk Patih Gajah
Mada. Setelah mengadakan perundingan dengan Patih Wulung dan Kyai Agung
Pasek Gelgel, maka Patih Gajah Mada memutuskan untuk segera memerintahkan
Arya Kapakisan dari Kadiri untuk ikut ke Bali dan segera diangkat sebagai Patih
Agung kerajaan Bali. Pada tahun 1352M Arya Kapakisan diangkat oleh Patih Gajah
Mada sebagai Patih Agung setingkat Perdana Menteri kerajaan Bali. Adipati Dalem
Kresna Kapakisan sangat senang menyambut pengangkatan Sri Arya Kapakisan
sebagai Perdana Menteri sekaligus sebagai Penasehat Dalem.
Tahun 1380 Dalem Ketut Kresna Kapakisan wafat, beliau diganti oleh putra sulung
Sri Agra Samprangan yang sifatnya suka bersolek. Beliau kurang hirau pada
pemerintahan. Seringkali para Patih dan Punggawa menunggu lama di balairung
namun sia-sia karena Dalem tidak juga keluar. Karena demikian beliau dinamai
Dalem Ile.
Melihat keadaan demikian, Ki Gusti Kebon Tubuh berusaha mencari adik Dalem Ile
sebagai pengganti. Namun adiknya yang senang berjudi itu sulit ditemukan, selalu
berpindah tempat. Akhirnya ditemukan di desa Pandak, maka beliau disebut
dengan nama Ketut Ngulesir. Semula beliau menolak menggantikan Dalem Ile
sebagai Adipati, namun karena rayuan Ki Gusti Kebon Tubuh, akhirnya beliau mau
dinobatkan sebagai Adipati. Tetapi dengan permintaan agar beristana di Gelgel
yang disebut Swecapura, tidak lain adalah rumah kediaman Ki Gusti Kebon Tubuh.
Permintaan itu disetujui oleh Para Menteri dan para petinggi kerajaan. Sedangkan
Dalem Ile dibiarkan saja di Istana Samprangan.

Dari Samprangan pindah ke Gelgel.
 Pusat pemerintahan ada di Gelgel, tidak lagi di Samprangan, dengan Adipati Dalem
Ketut Ngulesir atau lebih dikenal dengan nama Sri Smara Kapakisan, karena beliau
berwajah tampan. Dalam mengemudikan pemerintahan Sri Smara Kapakisan cukup
bijaksana karena membawa kemakmuran rakyat.
Perdana Menteri Sri Nararya Kapakisan juga pindah ke Gelgel membangun Puri
Kapatihan dekat istana Dalem. Setelah Sri Smara Kapakisan mangkat, beliau
diganti oleh Dalem Watu Renggong yang melanjutkan kebijakan pemerintahan
Gelgel sehingga kemakmuran rakyat merata  ke segala bidang kehidupan. Dalam
perkembangan pemerintahan di Gelgel, Dalem Waturenggong juga mengangkat
beberapa petinggi sesuai pilihannya sendiri.seperti Arya Ularan sebagai Panglima
Perang dengan pasukan Dulang Mangap yang terkenal tangguh. Dalem
Waturenggong memerintahkan Panglima Perang / Patih Arya Ularan untuk
menyerang Blambangan dan berhasil menang. Tetapi karena kekeliruannya
mendengar perintah Dalem, Patih Ularan disalahkan oleh Dalem dan disingkirkan ke
Den Bukit.
Setelah Perdana Menteri Sri Nararya Kapakisan wafat, digantikan oleh putranya
yang pertama bernama I Gusti Nyuh Aya sebagai Perdana Menteri. I Gusti Nyuh Aya
mempunyai sejumlah putra maupun putri. Sesudah datang waktunya, beliau diganti
oleh putra pertamanya,  bernama I Gusti Petandakan, kemudian di ganti oleh I Gusti
Batan Jeruk sebagai Perdana Menteri.
Sedangkan putra ke-enam I Gusti Nyuh Aya yang bernama I Gusti Cacaran yang
juga dikenal dengan nama I Gusti Ngurah Jelantik (I) tidak mempunyai jabatan
penting, memilih mengungsi ke desa Pesinggahan.



I Gusti Ngurah Jelantik sebagai Panglima Perang.Untuk mengisi kekosongan jabatan, Dalem Waturenggong memanggil keturunan I
Gusti Cacaran yang bergelar I Gusti Ngurah Jelantik untuk kembali ke Gelgel
dengan diberi jabatan Panglima Perang. Dalem Watu Renggong yang wafat di
sekitar tahun 1551M yang diganti oleh putranya bernama Dalem Bekung. Pada
tahun 1597 Dalem Bekung memerintahkan Panglima Perang I Gusti Ngurah Jelantik
(III) untuk menumpas pemberontakan di Blambangan dan Pasuruhan. Dalam perang
tanding dengan sengaja beliau tidak membawa senjata (mamogol), dan itu memang
dengan sengaja dilakukan agar terbunuh dalam perang untuk tujuan menebus dosa
leluhurnya. Beliau gugur meninggalkan isteri yang sedang hamil. Ketika putranya
lahir diberi nama Jelantik Bogol atau I Gusti Ngurah Jelantik (IV).
Kemudian Dalem Bekung digantikan oleh Dalem Sagening. Pada tahun 1621 Dalem
Sagening memerintahkan I Gusti Ngurah Jelantik (IV /Bogol) untuk menundukkan
penguasa Nusa Penida, Ki Dalem Bungkut atau Dalem Dukut atau Dalem Nusa.
Dengan keris kaliliran yang dijuluki Ki Pencok Saang, I Gusti Ngurah Jelantik Bogol
dapat membinasakan Dalem Bungkut dengan cara ksatria. I Gusti Ngurah Jelantik
Bogol mendapat pujian dan penghargaan dari Dalem Sagening. Namun hal itu
menimbulkan perasaan iri pihak pejabat lain. I Gusti Ngurah Jelantik Bogol (IV)
diganti oleh I Gusti Ngurah Jelantik V. Kemudian pada waktunya I Gusti Ngurah
Jelantik V digantikan oleh I Gusti Ngurah Jelantik VI.

Kekuasaan Gelgel melemah.
 
Dalem Sagening wafat tahun 1624. Beliau digantikan oleh putranya bernama Dalem
di Made yang masih muda. Para petinggi kerajaan Gelgel waktu itu sibuk dengan
urusannya sendiri-sendiri sehingga daerah-daerah seperti Sumbawa, Lombok dan
Blambangan berangsur dikuasai pihak lain. Keadaan Bali juga mulai gawat. Tahun
1639 pasukan Sultan Agung dari kerajaan Mataram menyerang Bali. Namun berkat
kesigapan I Gusti Ngurah Jelantik (VI), ayahanda I Gusti Ngurah Panji Sakti,
pasukan Mataram dapat diusir begitu turun dari kapalnya di Pantai Kuta sehinga
musuh lari tunggang langgang pergi tidak kembali lagi. Peristiwa itu membuat iri hati
bertambah, sehingga menimbulkan intrik di pihak para petinggi kerajaan, terutama
dari Patih Agung I Gusti Agung Maruti yang terus mempengaruhi Dalem yang masih
muda itu agar meminta keris pusaka (kaliliran) milik I Gusti Ngurah Jelantik bernama
Ki Pencok Saang yang sangat bertuah, namun I Gusti Ngurah Jelantik secara tegas
tidak akan menyerahkan pusaka nenek moyangnya itu. I Gusti Ngurah Jelantik dan
keluarganya telah beberapa kali mendapat serangan pasukan bersenjata suruhan I
Gusti Agung Maruti untuk membunuhnya namun selalu gagal. Dasarnya adalah
bilamana I Gusti Agung Maruti memiliki keris pusaka itu nantinya bisa menguasai
Dalem dan bisa lebih leluasa mengambil alih kerajaan Gelgel. Sifat ingin berkuasa I
Gusti Agung Maruti itu menimbulkan kegelisahan sehingga banyak petinggi
kerajaan dan masyarakat meningglkan Gelgel dan mengungsi ke tempat aman,
menyebar ke pelosok desa di Bali. Diantaranyan banyak keluarga pindah ke Den
Bukit (Buleleng) dan mendapat perlindungan I Gusti Ngurah Panji Sakti.
I Gusti Agung Maruti merebut kekuasaan Dalem Gelgel.Keinginan I Gusti Agung Maruti berhasil mengusir Dalem dan menguasai istana
Gelgel, kemudian pada tahun 1655 mengangkat dirinya sebagai penguasa kerajaan
Bali dengan nama Dalem Gelgel. Namun kedudukan I Gusti Agung Maruti sebagai
raja Bali atau Dalem Gelgel tidak diakui sehingga timbul beberapa penguasa
wilayah baru di Bali, seperti di wilayah Den Bukit dengan nama kerajaan Buleleng
yang dikuasai oleh I Gusti Ngurah Panji Sakti. Selain itu muncul kerajaan
Karangasem, Bangli, Mengwi, Gianyar, Jembrana, Tabanan, Badung dan kerajaan
lainnya. Kekuasaan I Gusti Agung Maruti sebagai Dalem Gelgel berakhir tahun
1686 oleh serangan koalisi dengan gugurnya Panglima Perang pasukan I Gusti
Agung Maruti yang bernama Ki Dukut Kerta yang berhasil dibunuh oleh Ki
Tamblang Sampun, Panglima Perang I Gusti Ngurah Panji Sakti dari kerajaan
Buleleng.
Kekuasaan Dalem di Gelgel runtuh.
 Walaupun I Gusti Agung Maruti telah melarikan diri namun kekuasaan Gelgel sudah
tidak mungkin dikembalikan lagi sebagai susuhan Bali. Pusat pemerintahan
berpindah ke Kelungkung yang disebut Semarapura dengan Dewa Agung Jambe
sebagai raja. Namun pemberontakan terjadi di seluruh Bali dengan beberapa
wilayah yang masing-masing berusaha membentuk negara sendiri.
I Gusti Anglurah Panji bertahan dengan keutuhan negara Buleleng.

Panji Sakti
 Arya Kapakisan adalah keturunan Raja Bali, Sri Dharma Udayana Warmadewa dan
juga Raja-raja Kadiri - Jawa Timur: Sri Airlangga, putra sulung suami isteri Sri
Dharma Udayana - Gunapriya Dharmapatni - Sri Semarawijaya - Sri Kamesawara -
Sri Jayasabha - Sri Sastrajaya. Sedangkan di Bali, yang meneruskan sebagai raja
dinasti Warmadewa adalah putra bungsu Sri Dharma Udayana, yang bernama Sri
Anak Wungsu sampai tahun 1080. Arya Kapakisan yang dibawa (kemBali) ke Bali
oleh Patih Gajah Mada diberi julukan Satriyeng Kadiri.
Sedangkan I Gusti Anglurah Panji Sakti, beliau adalah keturunan Aryeng Kadiri
melalui I Gusti Ngurah Jelantik - Panglima Perang sejak pemerintahan Dalem
Waturenggong, melalui Arya Cacaran, Perdana Menteri I Gusti Nyuh Aya - Perdana
Menteri kerajaan Bali pada jaman Dalem Ketut Kresna Kapakisan. Leluhurnya
adalah Sri Airlangga Raja Kediri. Bilamana diteruskan juga akan mengarah ke Bali
melalui Raja Bali abad ke XI Sri Udayana Warmadewa. Maka dalam perjalanan
hidupnya penuh perjuangan membangun kerajaan di Den Bukit dan selalu
mengkaitkan Bali dengan Jawa (Timur). Pada waktu Panji sakti sempat ke Solo,
beliau melihat langsung bekas kerajaan Kadiri - Panjalu – Jenggala yang
memprihatinkan. Sekembali dari Solo dan Blambangan, beliau membangun istana
bernama Puri Buleleng yang kemudian menjadi Kerajaan Buleleng. Maka ada
perkiraan para peneliti sejarah, bahwa Panji Sakti membangun kerajaan Buleleng
bermaksud membangun kembali kerajaan leluhurnya.
Buleleng adalah Jenggala ( =jagung gembal, Latin= Sorghum vulgare).

Dalam kebijakan membangun kerajaan Buleleng, Panji Sakti berbekal pada suatu
bentuk berlandaskan cinta kasih yang diberikan kepadanya oleh ayahandanya, I
Gusti Ngurah Jelantik yang memberikan dua buah pusaka (heirloom) berbentuk
keris Ki Semang dan sebuah tulup Ki Tunjungtutur atau Ki Pangkajatattwa. Bekal
berikutnya adalah kesadaran, bahwa walau dirinya hanya anak seorang selir tetapi
secara tegas ayahandanya mengakuinya sebagai putranya sendiri. Bekal
berikutnya, konsekuensi dia anak yang disisihkan dari kalangan keluarganya di
kerajaan Gelgel, dalam usia belia dikirim ke wilayah Den Bukit, hidup di tengah
keluarga ibunya, Ni Pasek Gobleg, di desa Panji, tumbuh dalam pembinaan
pamannya, Ki Wayan Pasek.
Maka disebutkan, kerajaan Buleleng dibentuk dengan pola pemerintahan
kerakyatan dengan semangat megoakgoakan, anti hegemony dengan rehabilitasi
pemerintahan Gelgel yang dikuasai I Gusti Agung Maruti dan menjadi penguasa
lokal di Den Bukit, anti imperialisme dengan aliansi ...
Sifat membela keluarga dan kerabat, seperti menyelamatkan keluarga Jelantik
(cucunda) keluar dari Gelgel yang runtuh dengan berpindah ke Blahbatuh dengan
pengawalan.
Dalam bidang spiritual, beliau mendalami ajaran "Kamahayanikan" yang kemudian
diberikannya kepada para sentana. Waktu piodalan di Pura Gedong di Blahbatuh,
selain memberi ajaran "Kamahayanikan"  dalam upacara "memeras cucu", beliau
menyerahkan sebuah benda pusaka tulup Ki Tunjungtutur sebagai tanda pertalian
keluarga.....

I Gusti Anglurah Panji Sakti menjalani kehidupan sederhana dan akhirnya moksah di
puri Panji - Buleleng.

0 komentar:

Poskan Komentar